Perbaiki Kualitas Kurikulum, Jurusan Manajemen FE UNNES Gelar Workshop Kurikulum Berbasis KKNI & SN Dikti

Kebutuhan lulusan yang memiliki kompetensi, makin menjadi tuntutan utama, khususnya bagi lulusan Perguruan Tinggi. Terkait hal tersebut, hari ini, Senin (12/11) Jurusan Manajemen FE UNNES mengadakan Workshop Pengembangan Kurikulum di Gedung L2 Kampus Sekaran. Kegiatan yang menghadirkan pembicara dari Departemen Manajemen FEB UNDIP, Dr. Harjum Muharam, SE, ME. tersebut, dibuka langsung oleh Dekan FE UNNES, Drs Heri Yanto MBA PhD.

Continue reading

Pengelola Jurnal Universitas Indonesia, Kunjungi EP UNNES

Chief editor Jurnal JEPI Universitas Indonesia, Djoni Hartono, Jumat (9/10) berkunjung ke Jurusan Ekonomi Pembangunan (EP) unnes. Ikut hadir dalam kesempatan tersebut, Sekretaris departemen Ilmu Ekonomi, Muhammad Halley Yudhistira, dan Staf administrasi jurnal JEPI UI. Dalam kesempatan tersebut, rombongan pengelola Jurnal, diterima langsung oleh Kajur Ekonomi Pembangunan, Fafurida, SE, M.Sc. dan Pengelola Jurnal EP, Avi Budi Setiawan,SE, M.Si.

Continue reading

Kolaborasi Keilmuan, Jurusan Ekonomi Pembangunan Undang Dosen Tamu dari BAPPEDA Jateng

Perguruan Tinggi dianggap memiliki peran strategis dalam mengembangkan keilmuan. Hal ini menjadi optimal, ketika Perguruan Tinggi mampu melakukan kolaborasi keilmuan dengan para stakeholder, khususnya yang memiliki kompetensi di bidangnya. Terkait dengan hal tersebut, Jurusan Ekonomi Pembangunan (EP) UNNES, hari ini (6/11)  mengundang dosen tamu dari BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan tersebut kembali mendapat animo tinggi dari mahasiswa untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Continue reading

Pisah Sambut Dekan FE, Berjalan Meriah.

Resmi dilantik, Hari Yanto, Ph.D. menjadi Dekan FE UNNES untuk periode 2018 – 2022. Dalam acara pisah sambut, yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi hari ini ( 28/6) di UTC Kelud Semarang, Dekan terpilih, Heri Yanto, Ph.D, menyatakan banyak terima kasih kepada Dekan terdahulu, DR. Wahyono, atas teladan dalam kepemimpinan yang selama ini telah ditunjukkan, selama memimpin FE UNNES. Dekan juga menyatakan, akan melanjutkan beberapa program unggulan yang telah dicanangkan oleh Dekan periode sebelumnya. Continue reading

MENIADAKAN ZERO SUM GAME DALAM SEBUAH KONTESTASI

oleh : Muhammad Feriady

Kontestasi dalam beberapa bulan terahir menjadi kata khas yang seringkali diperbincangkan baik dalam surat kabar nasional maupun lokal. Kata ini seringkali membersamai tema pemilihan kepala daerah 2018 ataupun persiapan pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang.

Kontestasi sendiri berasal dari kata kontes yang dalam KBBI diartikan sebagai perlombaan atau pemilihan. Namun agaknya kata kontestasi dalam artian yang lebih sempit ahir-ahir ini mengarah pada adu gagasan dan strategi politik dalam memperebutkan simpati masyarakat.

Pada masa era keterbukaan seperti sekarang ini kontestasi tidak hanya melulu soal pertarungan antar elit yang beradu gagasan memperebutkan simpati rakyat, pun juga pertarungan antar sesama rakyat (pendukung dan simpatisan) untuk saling mengunggulkan calon yang diusungnya. Hal ini tak ayal menyebabkan berbagai gejolak social yang tak jarang mamicu konflik.

Berbagai bibit permusuhan dan perpecahan tak lagi dapat dihindari manakala masyarakat justru terlihat lebih agresif dalam pertarungan untuk membenarkan pilihan politiknya. Hal ini tentu saja berbahaya dan mengancam stabilitas nasional bahkan keberadaan NKRI sebagai negara yang majemuk dengan perbedaan horizontal yang beraneka. Walaupun cerminan ini wajar terjadi pada sebuah negara demokrasi setelah sekian lama terkurung dalam tirani.

Fenomena kontestasi seperti ini menurut saya tak ubahnya seperti sebuah pola dalam Game Theory yang disebut Zero Sum Game. Zero Sum Game pertamakali dipublikasikan pada tahun dalam buku “Theory of Games and Economic Behavior” pada tahun 1944 oleh John Von Neumann dan Oscar Morgenstrern.

Zero sum game adalah kondisi yang menggambarkan bahwa jumlah keuntungan dan kerugian dari seluruh peserta dalam sebuah permainan adalah Nol. Artinya keuntungan yang dimiliki atau didapatkan oleh seorang pemain berasal dari kerugian yang dialami oleh pemain lainya. Hal ini pasti ada dalam sebuah game, namun apakah zero sum game ini menjadi pantas apabila terjadi dalam kontestasi yang katanya bertujuan untuk kepentingan bangsa dan negara?

Menyoal tentang pertarungan di akar rumput oleh simpatisan pendukung pasangan calon peserta pemilu tentu saja merupakan hal yang merugikan apabila terjadi kondisi zero sum game didalamnya. Betapa tidak, Pendukung dari “si kalah” akan dibully habis dan pendukung “si menang” seolah menjadi yang empunya negara.

Pada babak selanjutnya giliran pendukung “si kalah” menjadi pengkritik serba tahu dan pendukung “si menang” menjadai objek serba salah. Kompetisi yang dilakoni para elit seolah menempatkan masyarakat sebagai serdadu perang dengan berbagai gerakan masiv di social media bahkan dunia nyata, sementara para elit sibuk menikmatinya. Sebuah kontestasi yang berahir layaknya permainan judi di meja poker dengan zero sum game didalamnya, padahal hakikatnya proses ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara.

Non Zero Sum Game

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mungkin proses yang sejak 2014 bahkan sejak pertamakali reformasi bergulir yang selalu menempatkan serdadu rakyat dalam pertarungan ini berahir dengan Non Zero sum game (kebalikan Zero Sum Game)? Mungkinkah semua pendukung peserta kontestasi menjdai kelompok yang sama-sama menang? Pertanyaan serupa pasti terngiang dalam banyak benak masyarakat yang sudah terlalu jenuh dengan berbagai pertarungan antar pendukung dan simpatisan yang bahkan melewati batas rasional yang mereka punya.

Didalam Game Theory sebenarnya kondisi yang terjadi tidak harus Zero Sum Game, dapat juga berlaku Non Zero Sum Game dengan hasil win-win atau lose-lose solution. Keadaan ini tentu akan berlaku dengan asumsi kelompok pemilih disini adalah orang yang melakukan permainan.

Kita ibaratkan mereka seperti halnya perusahaan yang menetapkan strategi dalam pasar. Mereka bebas menentukan kriteria pemimpin seperti apa yang layak untuk mereka. Keadaan ini berbeda dengan realita saat ini  dimana kebanyakan pemilih dan simpatisan justru menjadi pasar yang menjatuhkan pilihanya dengan tidak rasional.

Metode lain dalam Game theory dapat menjelaskan kondisi win-win solution ini, salah satunya adalah Nash equilibrium yang dipopulerkan oleh Jhon Nash 1950. theory ini menjelaskan bahwa salah satu pemain akan menyusun sebuah strategi berdasarkan strategi yang dilakukan oleh pemain lawan.

Permasalahanya adalah kita dihadapkan pada ketidaktahuan kita terhadap keinginan pemain lawan, dalam Game Theory disebut sebagai the Prisoners dilemma. Demikian seperti halnya para pendukung dan simpatisan pasangan calon yang sama-sama tidak mengetahui sebenarnya apa yang penting dan diinginkan oleh pendukung dan simpatisan lainya.

Itu sebabnya Nash mengatakan bahwa Equilibrium Nash hanya cocok untuk analisis jangka pendek, dalam jangka Panjang sebagiknya para pelaku permainan berkerjasama. Hal ini didukung kuat oleh ilmuan peraih Nobel lainya seperti Thomas C Schelling dan Robert Aumann.

Pada tahap selanjutnya dalam Game Theory adalah metode Enforcing a Cartel, dimana didalam pasar duopilis perusahaan dapat menetapkan sendiri harga mereka, kemudian terjadi persaingan harga. Akan aman jika mereka menetapkan harga sesuai kesepakatan dan memperoleh untung bersama sebanyak-banyaknya.

Demikian dengan para pendukung dan simpatisan, alangkah baiknya jika mereka duduk Bersama kemudian mendiskusikan kriteria calon pemimpin yang ideal menurut mereka dan syarat wajib yang harus dimiliki. ketika terjadi kontestasi dan kedua calon yang mereka usung bertarung mereka tidak perlu beradu fisik dan pikiran, karena siapapun yang menjadi pemenangnya pada dasarnya adalah sama.

Hal ini dikarenakan kriteria calon yang mereka bela sudah disepakati sama. Apabila ini bisa diterapkan tentunya siapa yang menjadi pemenang dalam kontestasi akan diterima oleh semua. Demikian juga dengan yang kalah dalam kontestasi maka akan merasa menjadi pemenang bersama dari hasil yang ada.

Pada pandangan yang disampaikan penulis idealnya kesepakatan-kesepakatan tentang kriteria calon yang akan dipilih beserta syarat yang harus dimiliki merupakan hal yang substantive bagi masing-masing pendukung.

Namun seperti halnya pada Game Theory dalam menganalisis perilaku pasar oligopoli syarat yang paling utama adalah jika semua pemain dalam permainan ini melakukan tindakan rasional. Pertanyaan yang tidak dapat dijawab saat ini adalah apakah para pendukung dan simpatisan bahkan diri kita adalah orang yang berpikir rasional dalam pemilihan umum?

Tiga Bakal Calon Dekan FE Unnes, Paparkan Visi & Misi

Rapat senat terbuka dengan agenda tunggal penyampaian visi dan misi Bakal calon dekan fakultas Ekonomi UNNES 2018 – 2022, dilaksanakan hari ini (23/5) di ruang Aula FE Universitas Negeri Semarang. Dalam rapat yang dipimpin oleh Ketua Senat Fakultas Ekonomi, DR. Wahyono,MM. tersebut, diikuti oleh anggota senat fakultas, seluruh dosen dan tendik di lingkungan FE UNNES, dan juga perwakilan mahasiswa.

Dalam paparan visi dan misi, tiga bakal calon yang akan bersaing menduduki jabatan Dekan FE, yaitu Drs. Heri Yanto, MBA, PhD., DR. Kardoyo, M.Pd., dan DR. Amin Pujiati, S.E., M.Si. satu per satu menyampaikan visi dan misi, jika terpilih menjadi Dekan Periode 2018 – 2022.

Kesempatan pertama, disampaikan oleh Drs. Heri Yanto, MBA, Ph.D. Dengan program yang bertajuk Nawa Program, Drs. Heri Yanto, MBA, Ph.D. menawarkan 9 program unggulaan, diantaranya Peningkatan Kualitas SDM dan fasilitas di Fakultas, Peningkatan publikasi riset dan pengabdian masyarakat, dan Peningkatan kerja sama dengan insitusi baik dalam dan luar negeri.

Selanjutnya pada kesempatan kedua, paparan disampaikan oleh bakal calon kedua, DR. Kardoyo, M.Pd. yang menyampaikan Nawa Target FE UNNES. Visi & misi bakal calon dekan kedua yang ber-tagline “Be Smart Together” ini, diantaranya terdiri dari, peningkatan iklim ilmiah dosen dan mahasiswa, maksimalisasi fasilitas akademik dan non akademik di lingkungan FE, dan merintis prodi Ekonomi Syariah dengan mengandeng kerja sama bersama King Abdul Azis University.

Sedangkan, untuk paparan terakhir, Dr. Amin Pujiati, M.Si, menyampaikan sejumlah program. Dengan menekankan Fakultas Ekonomi yang ber-spirit konservasi, visi & misi yang disampaikan diantaranya peningkatan kualitas publikasi, peningatan kualitas SDM, dan progam akselarasi kelas internasional.

Dalam kesempatan tersebut, juga dibuka sesi tanya jawab, antara bakal calon dekan dengan peserta rapat senat. Beberapa isu yang ditanyakan diantaranya terkait arah kebijakan fakultas untuk masing masing jurusan, strategi peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa, peran fakultas ekonomi di era disrupsi teknologi, dan kebijakan perubahan nama Fakultas Ekonomi menjadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Kegiatan paparan visi misi bakal calon dekan ini, merupakan rangkaian kegiatan pemilihan dekan FE UNNES periode 2018 – 2022. Kegiatan ini kemudian akan dilanjutkan dengan pemilihan Dekan dan pelantikan Dekan, dalam rangkaian acara yang akan dilaksanakan secara bertahap hingga bulan Juni 2018.

Jurusan Manajemen adakan Training Perencanaan SDM

     Dalam melakukan perencanaan SDM, ada sejumlah langkah yang harus dilakukan. Hal ini disebut sebagai Tiga poin Utama Komitmen Kunci SDM. Poin pertama adalah Kompetensi berdasarkan prestasi, yang menunjukkan proses berpikir, bersikap , dan perilaku para Manajer puncak untuk tidak melakukan diskriminasi. Selain itu, Hal ini juga akan memberikan kesempatan yang sama bagi semua SDM untuk berkompetisi berdasarkan prestasi mereka.

Poin kedua, adalah Kebutuhan SDM Potensial. Konsep ini diakukan dengan melakukan antisipasi SDM yang diperlukan di masa mendatang.

Sementara poin ketiga, adalah melakukan promosi yang mengutamakan internal perusahaan. Hal ini tetap harus memenuhi persyaratan kualifikasi dalam mengisi jabatan yang kosong.

Hal tersebut, diungkapkan Theresia Kartika W, P.Si.,M,M. Direktur IPP Learning Center, dalam acara “Recruiment and Selection Training” untuk Mahaiswa Peminatan Manajemen Sumber Daya Manusia pada Rabu (28/3) di Ruang Aula FE Unnes.

Sambil menyampaikan materi, Pembicara juga membuat simulasi rekrutmen dan grup discussion, sehingga menjadikan acara tersebut menjadi cair, interaktif, sekaligus menyenangkan. Hal inilah yang menjadikan puluhan mahasiswa peminatan MSDM yang hadir, mengaku senang dan puas dengan adanya acara yang berlangsung sekitar 2 jam itu.

Dalam kesempatan tersebut, ikut hadir Ketua Jurusan, Sekjur, dan Ketua Laboratorium Jurusan Manajemen, serta sejumlah dosen Manajemen FE UNNES.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Jurusan Manajemen, Rini Setyo Witiasuti, SE,MM. menyatakan dukungan penuh dan apresisasi pada acara tersebut. Kajur Manajemen juga berharap agar para peserta dapat menyerap semua materi dengan baik, sehinga mampu menjadi bekal yang bermanfaat, khususnya setelah lulus menjadi Sarjana Ekonomi.

Nina Oktarina raih Doktor Pendidikan dengan IPK 3,97

Nina Oktarina (Dosen Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Unnes) hari ini (22/2), jalani sidang promosi Doktor di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.

Dalam promosi doktor tersebut, sidang dipimpin oleh Ketua Sidang, Prof. Dr. Achmad Slamet, M.Si. Sementara sebagai Promotor, Prof. Dr.Joko Widodo,M.Pd.; sebagai Co-promotor, Prof. Dr. Rahman M.Sc. ; dan Dr. Suwito Eko Pramono sebagai anggota promotor.

Dalam disertasi yang berjudul Pengembangan model akuntabilitas kinerja akademik berbasis kearsipan pada Sekolah Menengah Atas,Nina menyatakan perlunya implementasi akuntabilitas kinerja akademik berbasis arsip. Ditambahkan, saat ini model dalam disertasi ini sudah diterapkan di beberapa SMA di Semarang, diantaranya adalah penerapan indikator layanan alumni berbasis web di SMAN 12, dan SMA Widya Wiyata Semarang.

Selama ini, Nina menyebutkan, dokumen arsip di beberapa institusi sekolah, masih tidak tersimpan secara baik dan sistematis, sehingga ketika data asrsip diperlukan, diperlukan waktu yang relatif lama untuk mencarinya. Hal inilah, Nina menambahkan, yang mendasari pentingnya sekolah melakukann implementasi model ini.

Sementara terkait dengan manajemen arsip, dalam disertasinya, Nina menemukan bahwa sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi formal terhadap konsep dan penataan arsip, masih jarang ditemui, khususnya di institusi Sekolah Menengah Atas. Hal ini menjadikan tata kelola arsip kerap tidak dianggap profesional.

Dalam sidang tersebut, di hadapan para penguji, Nina Oktarina, berhasil mempertahankan disertasinya, sekaligus membawanya sebagai Doktor Pendidikan.

Berdasarkan hasil rapat tim penguji, Nina Oktarina, S.Pd.M.Pd. dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor, dengan IPK 3,97.