POLITIK PANGAN

Isu kerawanan pangan memang dari dulu telah mengemuka menjadi salah satu tantangan besar umat manusia. Negara punya tugas besar untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Maka menjadi tidak mengherankan jika urusan perut ini adalah salah satu dagangan politik paling laris untuk merebut hati masyarakat. Sekaligus menjadi salah satu indikator kesuksesan pemerintah dalam mengurus bangsa. Continue reading

TINGKATKAN PERSATUAN DALAM BINGKAI IDUL FITRI

 

Oleh Fentya Dyah Rahmawati (Pend. Adm. Perkantoran 2015)

Idul Fitri dimaknai sebagai hari pengembalian fitrah manusia, fitrah yang suci, tanpa dosa, bersih dan penuh cinta dan kasih sayang. Hal ini selaras dengan konsep islam bahwa asal muasal manusia ketika bayi adalah suci bersih tanpa noda. Kemudian setelah menapakkan kaki ke dunia, bayi yang suci tersebut seiring waktu pada akhirnya akan bergelimang dosa dan kesalahan. Maka, di hari Raya Idul Fitri ini sudah sepantasnya, dengan segenap hati kita saling memohon maaf dan memaafkan sesama manusia. Sekaligus memohon ampunan kepada Allah SWT, atas segala khilaf dan noda yang telah memberikan warna pekat dalam hidup. Continue reading

GEMBIRA MENJADI BAGIAN DARI TRADISI MUDIK

 

 

Oleh Sri Utami, S.S., M.A., M.Pd.

Mudik merupakan istilah yang sangat populer di Indonesia, terutama menjelang perayaan hari raya Idul Fitri. Tradisi mudik sudah menjadi seperti “kewajiban” bagi masyarakat yang pada umumnya umat muslim untuk bertemu dengan keluarga, orang tua,  teman-teman, dan lain-lain. Momen mudik di hari raya Idul Fitri dijadikan sebagai salah satu momen silaturahmi yang sangat dinantikan. Sebetulnya, apa itu mudik?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik mempunyai arti pulang ke kampung halaman. Pulang itu sendiri bermakna kembali ke rumah atau ke tempat asalnya. Artinya jika seseorang mudik berarti bahwa orang tersebut pulang ke kampung halaman/ke rumah/ke tempat asal. Sehingga, jika ditilik dari arti menurut KBBI, penggunaan istilah mudik sejatinya tidak hanya dapat dipakai saat momen lebaran saja, tetapi kapanpun dimana perantau ingin pulang ke rumah atau atau tempat dimana dia berasal. Sehingga, dalam arti luas, pemudik adalah seseorang yang pulang kampung dalam waktu tertentu. Sehingga, mudik bisa dilakukan oleh siapa saja, dari agama apapun, dan negara manapun.

Setiap tahun, fenomena masyarakat pulang ke tempat asal (mudik) juga terjadi dibeberapa negara pada waktu tertentu. Misalnya saja di Amerika. Masyarakat Amerika melakukan mudik di hari  libur nasional Thanksgiving atau hari Pengucapan Syukur. Warga Amerika yang merantau melakukan aktifitas mudik ini untuk berkumpul bersama keluarga besar yang biasanya dilengkapi dengan menyantap kalkun bersama. Di negara lain, China misalnya, tradisi mudik dilakukan oleh ratusan juta penduduk di Tahun Baru Imlek.  Sehingga disebut-sebut bahwa liburan Imlek Cina merupakan migrasi terbesar di dunia.  Selain itu, di India, Hari Diwali juga hari yang sangat dinantikan oleh masyarakat terutama yang beragama Hindu. Pasalnya, menjelang hari libur Diwali, para perantau akan berbondong-bondong mudik ke kampung halaman untuk merayakan Festival of Lights ini bersama keluarga besar.

Jika demikian, mudik dilakukan tidak hanya di Indonesia hanya saja waktu khusus mudiknya yang berbeda-beda. Jika di Amerika tradisi mudik dilakukan saat perayaan Thanks Giving, di China saat libur Imlek, dan di India saat perayaan Diwali, momen mudik terbesar di Indonesia terjadi saat menjelang perayaan Hari raya Idul fitri yaitu hari Raya umat Muslim yang jika di Amerika momen berkumpul bersama keluarga besar dilengkapi dengan santapan kalkun, sedangkan mudik di hari raya Iedul fitri, santapan khasnya adalah ketupat dan opor ayam. Mudik di hari libur saat Hari Raya Idul Fitri tidak hanya ada di Indonesia, dinegara lain yang mayoritas penduduknya muslim pun, masyarakatnya melakukan hal yang sama. Sebut saja Malaysia, Pakistan, begitu juga dengan Bangladesh.

Bagi warga Indonesia, termasuk warga Universitas Negeri Semarang (UNNES), mudik di hari raya lebaran merupakan perayaan libur yang sangat dinanti-nantikan karena tidak hanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetapi momen ini juga umumnya dimanfaatkan untuk mengadakan acara reuni teman-teman SMP maupun SMA, bersilaturahmi dengan para guru, tetangga, dan lain-lain.

Semoga momen hari libur di Hari raya Idul Fitri ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Umumnya, bagi umat muslim, setelah menyiapkan “bekal” selama satu bulan penuh dengan berpuasa di bulan Romadhan, menjadi bagian dari momen mudik di hari raya Idul Fitri merupakan proses yang menggembirakan. Artinya, gembira telah menyambut Romadhon, gembira menjalankan puasa di bulan Romadhon, dan gembira pula dapat melewati dan dapat mudik-kembali- ke kampung halaman.

Gugus Kerjasama FE UNNES Menjadi Pemenang Hibah Pengembangan Model Joint Curriculum Tahun 2018

Kamis, 31 Mei 2018 kemarin, proposal dengan judul MOA Credit Transfer Mahasiswa Manajemen UNNES dengan Manajemen Universitas Pendidikan Sultan Idris Malaysia (UPSI) berhasil memenangkan Hibah Pengembangan Model Joint Curriculum Tahun 2018. UNNES menggandeng Universitas Pendidikan Sultan Idris Malaysia (UPSI) sebagai mitra luar negeri dalam program ini. Program yang di pimpin oleh Drs. Heri Yanto, M.B.A., Ph.D. tersebut telah menyisihkan puluhan proposal dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Penilaian dan evaluasi yang dilakukan oleh Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tersebut menghasilkan 10 perguruan tinggi dengan program terbaik yang menjadi pemenang hibah dan UNNES menjadi salah satunya.

Pengumuman pemenang proram tersebut disampaikan secara langsung oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada tanggal 31 Mei 2018 lalu. Program ini sekaligus menjadi salah satu program untuk merealisasikan Internasionalisasi Fakultas Ekonomi UNNES melalui Gugus Kerjasama Fakultas Ekonomi yang diketuai oleh Sri Utami, S.S. M.A., M.Pd. dengan memfasilitasi kerjasama Nasional dan Internasional.

Luaran dari program ini adalah adanya MoA (Memorandum of Agreement) yang berisi kegiatan-kagiatan kolaborasi dari Fakultas Ekonomi UNNES dengan Fakultas Ekonomi dan Manajemen UPSI Malaysia. Salah satu kegiatan dalam waktu dekat yang akan segera dilaksanakan sebagai hasil tindak lanjut dari program ini adalah FGD terkait penyetaraan kurikulum dari kedua belah pihak.

Semoga hasil baik dari Gugus Kerjasama Fakultas Ekonomi ini bisa menjadi pemacu untuk semakin menginternasionalisasikan Fakultas Ekonomi UNNES di kancah dunia.

(NP/AS)

Hijrah Permata Dewata Menuju Konservasi

Oleh: Ahmad Mulhakim
(Pendidikan Ekonomi 2015/ UNDIKSHA, Bali)

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى

الْجَنَّةِ

Artinya : ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Hadist tersebut menjadi monivasi untuk mengikuti program PERMATA di UNNES, sangat bersyukur alhamdulillah karena sebanyak 3 orang mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi dari pulau dewata diberi kesempatan luar biasa untuk menimba  ilmu di UNIVERSITAS NEGRI SEMARANG atau yang lebih akrab dengan jargonnya UNNES Konservasi.
UNNES akan menjadi rumah terindah bagi kami nantinya dalam menuntut ilmu selama 1 semester, karena disini kami akan menemukan hal baru yang tidak akan kami temukan di pulau dewata. Bagaimana tidak, secara karakter budaya saja berbeda dimana orang jawa terkenal dengan kelembutan sifat dan bahasanya yang dimana sangat berbeda dengan karakter budaya yang ada di BALI yang notabennya keras.
Gambaran umum yang kami tangkap tentang kampus Konservasi ini sangatlah indah, mulai dari indah gedung, tata ruang taman hijau dan juga indah orangnya. Gedung kampus Konservasi sendiri sangatlah unik dan berbeda dengan gedung kampus kami di bali dimana yang menjadi pembedanya yaitu terletak pada arsiteknya yang sudah modern, membuat takjubnya lagi disetiap Fakultasnya terdapat masjid ataupun mushala, tata ruang taman kampus konservasi sangatlah menarik perhatian kami, dimana sesuai dengan jargonnya tata runag tama   nya sangatlah tertata dengan rapi, bersih, nyaman sehingga menjadikan siapa saja betah berlama-lama di UNNES.
Di UNNES sendiri kami menemukan olahraga unik yang belum pernah kami jumpai sebelumnya, olaraga itu adalah TONNIS ; dimana olahraga ini menggabungkan antara badminthon dan juga tenis lapangan, ini menjadi bekal nantinya pada saat kembali ke dewata dengan membawa oleh-oleh tidak hanya budaya tetapi juga sebuah permainan olahraga yang dimana olahraga tersebut menjadi ciri khas dari kampus Konservasi.
Menurut kami Fakultas tebaik ialah Fakultas Ekonomi, mengapa tidak, gedung biru dengan taman syurga ini menjadi gedung termodern dan juga terbaik, tidak hanya siang hari terlihat enak dipandang namun juga malam harinya seakan Fakultas ini menjadi rajanya Fakultas yang ada di UNNES.
Dalam proses  pembelajaan di gedung FE ini kami merasakan sangatlah nyaman, kareana semua aspek dari gedung ini sangatlah ersih, rapi & indah,Tenaga pengajar yang professional, mahasiswa yang intelek & lingkungan akademik yang sudah membuya kepada mahasiswanya. Cirri khas FE  Tidak hanya taman yang tertata rapi juga  indah, FE juga memiliki lapangan Tonnis bahkan sering dipakai dalam ivent nasional.
Mudahan apa yang kami dapat dari Kampus Konservasi, Fakultas Ekonomi, menjadi berkah dan dapat kami jadikan bekal nantinya pada saat pulang ke Dewata BALI.

MENIADAKAN ZERO SUM GAME DALAM SEBUAH KONTESTASI

oleh : Muhammad Feriady

Kontestasi dalam beberapa bulan terahir menjadi kata khas yang seringkali diperbincangkan baik dalam surat kabar nasional maupun lokal. Kata ini seringkali membersamai tema pemilihan kepala daerah 2018 ataupun persiapan pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang.

Kontestasi sendiri berasal dari kata kontes yang dalam KBBI diartikan sebagai perlombaan atau pemilihan. Namun agaknya kata kontestasi dalam artian yang lebih sempit ahir-ahir ini mengarah pada adu gagasan dan strategi politik dalam memperebutkan simpati masyarakat.

Pada masa era keterbukaan seperti sekarang ini kontestasi tidak hanya melulu soal pertarungan antar elit yang beradu gagasan memperebutkan simpati rakyat, pun juga pertarungan antar sesama rakyat (pendukung dan simpatisan) untuk saling mengunggulkan calon yang diusungnya. Hal ini tak ayal menyebabkan berbagai gejolak social yang tak jarang mamicu konflik.

Berbagai bibit permusuhan dan perpecahan tak lagi dapat dihindari manakala masyarakat justru terlihat lebih agresif dalam pertarungan untuk membenarkan pilihan politiknya. Hal ini tentu saja berbahaya dan mengancam stabilitas nasional bahkan keberadaan NKRI sebagai negara yang majemuk dengan perbedaan horizontal yang beraneka. Walaupun cerminan ini wajar terjadi pada sebuah negara demokrasi setelah sekian lama terkurung dalam tirani.

Fenomena kontestasi seperti ini menurut saya tak ubahnya seperti sebuah pola dalam Game Theory yang disebut Zero Sum Game. Zero Sum Game pertamakali dipublikasikan pada tahun dalam buku “Theory of Games and Economic Behavior” pada tahun 1944 oleh John Von Neumann dan Oscar Morgenstrern.

Zero sum game adalah kondisi yang menggambarkan bahwa jumlah keuntungan dan kerugian dari seluruh peserta dalam sebuah permainan adalah Nol. Artinya keuntungan yang dimiliki atau didapatkan oleh seorang pemain berasal dari kerugian yang dialami oleh pemain lainya. Hal ini pasti ada dalam sebuah game, namun apakah zero sum game ini menjadi pantas apabila terjadi dalam kontestasi yang katanya bertujuan untuk kepentingan bangsa dan negara?

Menyoal tentang pertarungan di akar rumput oleh simpatisan pendukung pasangan calon peserta pemilu tentu saja merupakan hal yang merugikan apabila terjadi kondisi zero sum game didalamnya. Betapa tidak, Pendukung dari “si kalah” akan dibully habis dan pendukung “si menang” seolah menjadi yang empunya negara.

Pada babak selanjutnya giliran pendukung “si kalah” menjadi pengkritik serba tahu dan pendukung “si menang” menjadai objek serba salah. Kompetisi yang dilakoni para elit seolah menempatkan masyarakat sebagai serdadu perang dengan berbagai gerakan masiv di social media bahkan dunia nyata, sementara para elit sibuk menikmatinya. Sebuah kontestasi yang berahir layaknya permainan judi di meja poker dengan zero sum game didalamnya, padahal hakikatnya proses ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara.

Non Zero Sum Game

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mungkin proses yang sejak 2014 bahkan sejak pertamakali reformasi bergulir yang selalu menempatkan serdadu rakyat dalam pertarungan ini berahir dengan Non Zero sum game (kebalikan Zero Sum Game)? Mungkinkah semua pendukung peserta kontestasi menjdai kelompok yang sama-sama menang? Pertanyaan serupa pasti terngiang dalam banyak benak masyarakat yang sudah terlalu jenuh dengan berbagai pertarungan antar pendukung dan simpatisan yang bahkan melewati batas rasional yang mereka punya.

Didalam Game Theory sebenarnya kondisi yang terjadi tidak harus Zero Sum Game, dapat juga berlaku Non Zero Sum Game dengan hasil win-win atau lose-lose solution. Keadaan ini tentu akan berlaku dengan asumsi kelompok pemilih disini adalah orang yang melakukan permainan.

Kita ibaratkan mereka seperti halnya perusahaan yang menetapkan strategi dalam pasar. Mereka bebas menentukan kriteria pemimpin seperti apa yang layak untuk mereka. Keadaan ini berbeda dengan realita saat ini  dimana kebanyakan pemilih dan simpatisan justru menjadi pasar yang menjatuhkan pilihanya dengan tidak rasional.

Metode lain dalam Game theory dapat menjelaskan kondisi win-win solution ini, salah satunya adalah Nash equilibrium yang dipopulerkan oleh Jhon Nash 1950. theory ini menjelaskan bahwa salah satu pemain akan menyusun sebuah strategi berdasarkan strategi yang dilakukan oleh pemain lawan.

Permasalahanya adalah kita dihadapkan pada ketidaktahuan kita terhadap keinginan pemain lawan, dalam Game Theory disebut sebagai the Prisoners dilemma. Demikian seperti halnya para pendukung dan simpatisan pasangan calon yang sama-sama tidak mengetahui sebenarnya apa yang penting dan diinginkan oleh pendukung dan simpatisan lainya.

Itu sebabnya Nash mengatakan bahwa Equilibrium Nash hanya cocok untuk analisis jangka pendek, dalam jangka Panjang sebagiknya para pelaku permainan berkerjasama. Hal ini didukung kuat oleh ilmuan peraih Nobel lainya seperti Thomas C Schelling dan Robert Aumann.

Pada tahap selanjutnya dalam Game Theory adalah metode Enforcing a Cartel, dimana didalam pasar duopilis perusahaan dapat menetapkan sendiri harga mereka, kemudian terjadi persaingan harga. Akan aman jika mereka menetapkan harga sesuai kesepakatan dan memperoleh untung bersama sebanyak-banyaknya.

Demikian dengan para pendukung dan simpatisan, alangkah baiknya jika mereka duduk Bersama kemudian mendiskusikan kriteria calon pemimpin yang ideal menurut mereka dan syarat wajib yang harus dimiliki. ketika terjadi kontestasi dan kedua calon yang mereka usung bertarung mereka tidak perlu beradu fisik dan pikiran, karena siapapun yang menjadi pemenangnya pada dasarnya adalah sama.

Hal ini dikarenakan kriteria calon yang mereka bela sudah disepakati sama. Apabila ini bisa diterapkan tentunya siapa yang menjadi pemenang dalam kontestasi akan diterima oleh semua. Demikian juga dengan yang kalah dalam kontestasi maka akan merasa menjadi pemenang bersama dari hasil yang ada.

Pada pandangan yang disampaikan penulis idealnya kesepakatan-kesepakatan tentang kriteria calon yang akan dipilih beserta syarat yang harus dimiliki merupakan hal yang substantive bagi masing-masing pendukung.

Namun seperti halnya pada Game Theory dalam menganalisis perilaku pasar oligopoli syarat yang paling utama adalah jika semua pemain dalam permainan ini melakukan tindakan rasional. Pertanyaan yang tidak dapat dijawab saat ini adalah apakah para pendukung dan simpatisan bahkan diri kita adalah orang yang berpikir rasional dalam pemilihan umum?

Wow, Dua Dosen FE Menjadi Guest Lecture di UPSI Malaysia

Malaysia (07/05)- Bertempat dikampus baru Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, tepatnya di Kota Proton, pada tanggal 7 Mei 2018, dua dosen Fakultas Ekonomi,UNNES, menjadi dosen tamu selama sehari di universitas yang ada di Tanjung Malim tersebut.

Dua dosen tersebut adalah Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, S.E., M.SI. ,dan Sri Utami, S.S., M.A., M.Pd. Perkuliahan yang dihadiri 30 mahasiswa UPSI tersebut diawali dengan paparan oleh Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, S.E., M.SI. , berjudul “Agricultural Extension in Central Java” khususnya di Grobogan, Klaten, dan , Magelang. Sedangkan paparan kedua oleh Sri Utami, S.S., M.A., M.Pd dengan tema “Developing Rebana Cluster by Empowering Existing Social Capital”dengan studi kasus di Kab.Brebes. Mahasiswa UPSI pun sangat antusias saat perkuliahan berlangsung,termasuk aktif berpartisipasi pada sesi diskusi.

Dr. Norimah binti Rambeli, Ketua Jurusan Ekonomi UPSI, mengatakan bahwa kegiatan mengundang Dosen Tamu dapat membuka wawasan mahasiswa terkait kondisi masyarakat diluar Malaysia, dalam hal ini Indonesia, sehingga mereka mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, tidak hanya mengetahui aktifitas perekonomian yang ada di Malaysia saja.

Guest lecture ini merupakan salah satu upaya FE untuk menyokong visi Internasionalisasi dari UNNES. Transfer ilmu dari dan ke luar negeri diharapkan bisa menjadi kegiatan rutin yang pada akhirnya menjadi salah satu penggerak internasionalisasi UNNES. (Sri Utami/NB)

Kembali, Mahasiswa FE Mendulang Prestasi

Sc: Dokumen Pribadi

Dwi Yulianti Barokah Membawa Piala Saat Pemberian Penghargaan Juara 1 dalam ajang Lomba Debat dan LKTI tingkat nasional di Universitas Negeri Makassar (Kiri), Siti Nur Sholihah Saat Mempresentasikan Karyanya dalam ajang National Essay Competition Event of Public Administration (EPIC) 2018 di Universitas Lampung (Kanan)

(7/5) Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNNES kembali berprestasi di bulan pendidikan ini dengan menjadi juara. Sebut saja Dwi Yulianti Barokah menjadi juara 1 dalam ajang Lomba Debat dan LKTI tingkat nasional, acara itu bernama Wisata Pendidikan Nasional 2018 yang dilaksanakan di Universitas Negeri Makassar. Perlombaan dilaksanakan kemarin pada hari Kamis sampai Sabtu, 3-5 Mei 2018. Sebelumnya, untuk bisa mengikuti ajang tersebut Uli dkk harus lolos seleksi essay dan selanjutnya beradu dalam 16 besar untuk mengikuti lomba debat. Dalam lomba yang diikuti oleh banyak universitas besar seperti UNESA Surabaya, USU Sumatera Utara, UNTAN Pontianak, UNY Yogyakarta, Universitas Tarumanegara, sampai UNP Padang tersebut juara 1 berhasil di raih oleh UNNES sedangkan juara 2 Universitas Hasanuddin, dan juara 3 Universitas Tanjungpura. Sebuah kebanggaan bagi Fakultas Ekonomi pada khususnya dan UNNES pada umumnya atas prestasi mahasiswanya. Dalam perlombaan itu Dwi Yulianti Barokah atau Uli, panggilan akrabnya bersama Wisnu Pratama (FH), dan Annisa (FIP) yang tergabung dalam satu tim berhasil menjadi juara. Sebelumnya ternyata Uli yang juga angkatan 2014 itu juga membawa nama UNNES sebagai delegasi dalam KKN Kebangsaan tahun 2017 di Gorontalo.

Selain itu, sebelumnya Siti Nur Sholihah mahasiswa jurusan Akuntansi juga mengharumkan nama UNNES dan Fakultas Ekonomi pada khususnya dengan menjadi juara 1 dalam ajang National Essay Competition Event of Public Administration (EPIC) 2018 di Universitas Lampung pada Rabu sampai Kamis tanggal 2-3 Mei 2018. Acara itu diikuti oleh UNS Surakarta, Universitas Sriwijaya, Universitas Negeri Malang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sampai Universitas Bandar Lampung. Mahasiswa Akuntansi Rombel D angkatan 2016 itu sebelumnya harus mengirimkan essay yang dia buat dengan judul GO VLOG (Government Vlog of Mental Revolution Program) sebagai strategi Penanaman Nilai Karakter Pada Anak Dalam Mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Semoga prestasi membanggakan ini senantiasa diikuti dengan prestasi-prestasi lain yang mengharumkan nama almamater. Siapakah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang mengikuti jejak mereka selanjutnya? Jangan pernah takut untuk selalu berprestasi kapanpun dan dimanapun. FE Brilian! (Ed: T/Novian Budi)