“Gita Ekonomia Choir” raih Medali Perak Satya Dharma Gita National Choir Festival 2017

Tim Paduan Suara Fakultas Ekonomi Unnes “Gita Ekonomia Choir” meraih Medali Perak pada kategori Folklore atau lagu rakyat dalam ajang Satya Dharma Gita National Choir Festival ke-6 tahun 2017 (SDGNCF-6th). Acara SDGNCF ini berlangsung selama 5 hari dari tanggal 23 – 27 Agustus 2017 di Auditorium Imam Bardjo Undip Peleburan.

Gita Ekonomia Choir dalam lomba kali ini membawakan 3 buah lagu yakni Leron-leron Sinta dari Philipina, Gelung Perada dari NTB, dan Prau Layar dari Jawa Tengah. Pada event ini Paduan Suara Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unnes bersaing dengan Tim Paduan Suara Mahasiswa dari berbagai Universitas seperti ITS, UNDIP, UNS, UNTIRTA, IAIN Salatiga, dll.

Harapan dari lomba ini ialah menjadikan rasa semangat kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi untuk terus berprestasi. Untuk itu, bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi yang mempunyai bakat dalam bidang seni khususnya menyanyi dapat bergabung dengan Tim Paduan Suara Gita Ekonomia Choir. Keep Singing!!!

Related Posts you may like

Oki terpilih menjadi Delegasi Indonesia dalam Asean Youth Summit 2017 di Manila, Philipines.

Oki Sadma, Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES) terpilih menjadi Delegasi Indonesia untuk mengikuti Asean Youth Summit (AYS) 2017 bersama 150 pemuda Se-Asean.

Asean Youth Summit 2017  ini di selenggarakan di manila, Philipines selama 5 hari mulai 23-27 April 2017 dengan tema “Strenght in Diversity , Building One Asean Community”. Konferensi ini diikuti oleh para pemuda yang berasal dari negara Se-Asean yaitu Indonesia, Singapore, Malaysia, Philipines, Brunei Darussalam, Myanmar, Laos, Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Pemuda yang kerap disapa oki ini merupakan mahasiswa yang memiliki prestasi. Ia merupakan Ketua Himpunan mahasiswa jurusan Akuntansi 2015, penerima beasiswa Djarum Foundation serta Grand finalis Putra- putri lingkungan hidup Kota semarang 2017.

Pada ajang ini Oki mengikuti konferensi pemuda global yang diintegrasikan dengan simulasi konferensi Asean. Dimana pada ajang ini para delegasi diajak untuk memahami asean, bertukar gagasan dan membahas isu utama yang menjadi perhatian di asean mulai dari Keamanan, politik, Ekonomi, sosial dan budaya. Selain itu kegiatan ini juga disertai dengan  coaching session, networking session, Cultural night dan Manila field trip.

Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali dalam memperkaya wawasan Asean dan kepemudaan serta memperluas jaringan relasi internasional,  apa lagi saat ini kita telah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), jelas oki.

Ia berharap akan lebih banyak lagi ajang yang serupa yang dapat memberi kesempatan pada pemuda lainya khususnya mahasiswa unnes untuk memperkaya pengalamanya di tingkat internasional.

Related Posts you may like

Lagi, Mahasiswa Akuntansi FE Juara II Tingkat Nasional

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (UNNES) meraih Juara Dua Nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Akuntansi pada kejuaraan Sriwijaya Accounting Olympiad, Kamis – Sabtu (6-9/4) di Universitas Sriwijaya Palembang. Mereka yakni Nurul Kholifah, Diyah Damayanti, dan Erna Suprapti.

Dekan FE UNNES Dr Wahyono MM mengaku bangga dengan prestasi yang diraih mahasiswa Akuntansi FE. “Ini merupakan bukti FE senantiasa ikut andil dalam meningkatkan pencitraan atau reputasi UNNES,” katanya.

Tahun 2017 ini UNNES mencanangkan sebagai tahun reputasi, mari kita bersama sama menyukseskan dengan cara mendorong mahasiswa berprestasi, ajak Dr Wahyono.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kusmuriyanto mengatakan Prestasi yang membanggakan ini diharapkan mampu menjadi pemacu mahasiswa yang lain untuk terus berprestasi.

 

Related Posts you may like

Dani Puspitasari dan Tubagus Fahmi menjadi Mawapres FE UNNES

Semarang- Sebanyak sembilan orang finalis mahasiswa berprestasi telah menunjukan kompetensi terbaiknya dalam acara puncak Pemilihan Mahasiswa Berprestasi FE UNNES pada Sabtu (18/3) lalu. Sembilan finalis yang merupakan mahasiswa berprestasi jurusan itu tidak lain adalah Wahyu Nursiswo, Mar’atus Sholikah, dan Umi Thoifah Amalia dari Jurusan Pendidikan Ekonomi; Fauzul Adzim dan Kurniasih dari Jurusan Ekonomi Pembangunan; Dani Puspitasari dan David Indra Gunawan dari Jurusan Akuntansi; serta Tubagus Fahmi dan Muhammad Reza Fatha dari Jurusan Manajemen.
Acara yang berlangsung di Gedung C3 120-121 ini dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Drs. Kusmuriyanto, M.Si. dan dihadiri oleh segenap dewan juri dan tamu undangan. Ketua Panitia Pemilihan Mawapres FE, Nurdian Susilowati, S.Pd, M.Pd,. menjelaskan teknis rangkaian penilaian, yaitu kesembilan finalis melakukan presentasi karya tulis dan melakukan Focus Group Discussion yang dibagi menjadi dua sesi.
Setelah melalui serangkaian tahap penilaian, akhirnya terpilihlah Dani Puspitasari (Jurusan Akuntansi) sebagai Mawapres 1 dan Tubagus Fahmi (Jurusan Manajemen) sebagai Mawapres 2 yang selanjutnya akan mewakili FE untuk berkompetisi di pemilihan Mawapres tingkat universitas.
“Menjadi seperti ini tidak pernah tertulis dalam mimpi saya, karena mungkin terlalu berlebih untuk menjadi mawapres”, ungkap Dani, mawapres 1 FE. Mahasiswa asal Kudus yang memiliki motto khoirunnas anfa’uhum lillas (sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi manusia lain) ini juga memohon dukungan, doa dan ridho dari seluruh dosen dan mahasiswa FE untuk maju dalam pemilihan mawapres tingkat universitas.
Pemlihan mahasiswa berprestasi adalah agenda tahunan fakultas dan universitas. Pemilihan ini dilaksanakan dengan terlebih dahulu membuka pendaftaran dan pengumpulan berkas bagi seluruh mahasiswa yang berminat mengikuti pemilihan ini. Adapun penilaian pemilihan mawapres FE ini meliputi IPK, karya tulis, berkas prestasi, dan penilaian ringkasan karya tulis dalam bahasa inggris serta FGD. Semoga dengan terpilihnya mawapres FE ini dapat memberikan yang terbaik di tingkat Universitas dan Nasional serta dapat memotivasi mahasiswa FE pada umumnya untuk dapat lebih berprestasi.

Related Posts you may like

PANGAN PETANI DAN KEMISKINAN

Petani memang selalu identik dengan kemiskinan. Data BPS menunjukan dari 27,76 juta penduduk miskin di Indonesia, 17,28 juta diantaranya adalah penduduk perdesaan yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Kondisi ini tak pernah bergerak dari zaman kolonial hingga kini. Petani dan sektor pertanian masih dianggap pekerjaan yang berkubang dengan jerat kemiskinan.

Nilai tukar petani (NTP) selama 2016 tahun juga mengalami tren penurunan. Pada bulan juni nilai NTP sebesar 101,47 Angka ini menurun jika dibandingkan NTP bulan januari yang sebesar 102,55. Artinya terjadi kecenderungan penurunan kesejahteraan petani di Indonesia. Apa yang terjadi sebenarnya sudah cukup menggambarkan kondisi kehidupan petani di balik upaya untuk mendorong swasembada pangan.

Belakangan pemerintah memang menunjukan keseriusan yang tinggi untuk menggenjot produksi pangan. Komoditas ini menjadi fokus karena terkait langsung dengan fluktuasi harga, stabilitas sosio ekonomi dan elemen strategis lain. Terlihat jelas bahwa pemenuhan pangan mandiri adalah isu terpenting. Pangan adalah komoditas krusial yang harus dijaga suplainya.

Anggaran besar disiapkan untuk mendorong swasembada padi, jagung, kedelai dan daging sapi. Tapi sekali lagi fokus utamanya masih pada upaya menggenjot produksi. Hal ini tidaklah salah, karena dasar pijakannya adalah tingginya konsumsi nasional dan fluktuasi produksi di tengah tantangan penurunan produktivitas. Di sisi lain, komoditas pangan juga menjadi penyumbang utama inflasi.  Sehingga pergerakan harga dan pasokannya harus dijaga.

Ukuran prestasi dari para pemangku kepentingan yang paling bisa dilihat juga berupa deretan angka peningkatan produksi, laju produktivitas, penambahan areal luasan tanam, naiknya ekspor dan menurunnya impor dan deretan data lain. Memang tantangan utama yang dihadapi kini adalah upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi yang besar mengikuti penambahan jumlah penduduk. Di saat yang sama, tantangan yang dihadapi adalah tergesernya pertanian sebagai elemen inti pembangunan.

 

 

Bagaimana dengan Kesejahteraan Petani?

    Entah karena mendesak atau bagaimana, namun sepertinya para pihak yang berkepentingan belum menempatkan kesejahteraan petani sebagai fokus utama sasaran pembangunan. Kesejahteraan petani masih dipandang sebagai dampak ikutan apabila produksi dan produktivitas komoditas pertanian dapat digenjot. Padahal, jika boleh dikatakan hal tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Pemenuhan kebutuhan pangan harus diikuti dengan keterjangkauan harga. Berarti fokusnya disini adalah pangan yang tersedia dengan harga yang terjangkau jika tak boleh dikatakan murah. Maka tak heran apabila trilyunan dihabiskan untuk menggenjot produksi.

Tapi siapa peduli dengan nasib petani. Yang penting harga bahan pangan harus terjangkau. Dengan karakter yang perishable ditambah dengan pola distribusi yang panjang.  Mana mungkin harga akan terjangkau tanpa mengorbankan petani sebagai produsennya?

Kebijakan subsidi juga lebih diarahkan pada upaya peningkatan produksi secara langsung. Seperti pemberian subsidi pupuk, bibit unggul, alsintan, modal usaha, serta pembangunan infrastruktur hulu dan on-farm. Belum ada kebijakan yang mengarah langsung pada upaya peningkatan kesejahteraan petani. Semua harus ditransmisikan dulu ke dalam strategi peningkatan produksi pangan. Seolah-olah petani harus bekerja maksimal dulu baru kemudian bisa sejahtera.

Sekali lagi ini tidaklah salah. Mengingat peningkatan produksi adalah hal yang sangat mendesak. Tapi, dengan menjadikan petani sebagai mesin produksi yang harus menghidupi jutaan orang tapi mereka sendiri berkubang dalam kemiskinan sepertinya tidak adil. Di mana letak keadilan jika pembentukan harga komoditas pertanian ditentukan oleh mekanisme pasar yang sebenarnya telah terdistorsi tanpa pemerintah turut campur.

Selama ini subsidi hulu cenderung lebih menguntungkan konsumen dibandingkan produsen, yang dalam hal ini petani. Karena membuat harga menjadi lebih murah, sehingga surplus konsumen lebih besar dibandingkan surplus produsen yang diterima petani. Bahkan kadang lebih menguntungkan industri hulu macam perusahaan penyedia berbagai faktor produksi yang sebenarnya telah memiliki kekuatan finansial dan portofolio usaha yang jauh mentereng.

Di beberapa Negara, subsidi hulu bukan lagi menjadi instrumen satu-satunya dalam mendorong kinerja sektor pertanian utamanya tanaman pangan. Pemerintah di beberapa Negara menyadari bahwa petani perlu diberikan insentif langsung yang dapat merangsang mereka lebih produktif lebih dari sekedar bantuan pemberian faktor produksi.

Dalam hal ini subsidi hilir dapat  menjadi alternbatif. Implementasinya adalah penetapan harga eceran tertinggi (Ceiling Price). Di Jepang 85 persen pendapatan petani berasal dari subsidi harga dari pemerintah. Beberapa contoh lain seperti Thailand dan Amerika Serikat juga memberlakukan kebijakan yang hampir serupa. Apa yang mereka lakukan sebenarnya dalam rangka peningkatan produksi dan upaya mensejahterakan petani secara langsung.

Kesejahteraan petani sepertinya akan mustahil tercapai jika kita masih terlalu fokus pada produksi saja. Pemahaman itu hanya akan membuat petani tak lebih dari sekedar mesin penghasil pangan. Perlu upaya langsung yang lebih menyentuh mereka. Petani yang kebanyakan buruh tani ini tak akan menikmati keuntungan meskipun produksi melimpah, karena harga jual yang bias.

Maka percuma jika ingin mengangkat petani dari jurang kemiskinan tapi tidak memegang akar masalahnya. Tak cukup meningkatkan produksi saja, harus ada mekanisme jaring perlindungan harga jual agar NTP petani tak semakin turun. Di samping memang paradigma petani sendiri yang harus diubah agar lebih visioner.

Di sisi lain, perlu ada penataan pada rantai distribusi komoditas pangan yang cenderung oligopsoni dan oligopoli ini. Mengutip pernyataan dari Jean Tirole pemenang Nobel ekonomi yang mengatakan, ketika di suatu pasar ada yang menjadi market leader, maka satu cara untuk mengontrolnya adalah dengan menciptakan regulasi.

Avi Budi Setiawan; Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan/ Peneliti K2EB

Related Posts you may like

KSEI UNNES Juara II Lomba LKTI Tingkat Jawa Tengah

Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi  (FE) Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang merupakan Badan Semi Otonom Fakultas berhasil meraih juara dua tingkat Jawa Tengah dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah, Sabtu-Minggu 3-4 Februari di Kampus Unissula Jalan Raya Kaligawe Semarang.

Acara yang digelar dalam rangka temu ilmiah ekonomi islam se-Jawa Tengah di ikuti puluhan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Drs Kusmuriyanto MSi, mengungkapkan sangat bangga dan mengapresiasi prestasi tersebut, dari kompetisi seperti inilah mahasiswa berlatih, ditempa untuk tampil berkreasi, berpikir dan mengungkapkan gagasannya untuk menyelesaikan beberapa masalah yang ada di masyarakat sesuai bidang ilmunya. “Prestasi ini semoga diikuti mahasiswa lain untuk meraih prestasi yang lebih membanggakan, selamat dan sukses untuk mahasiswa FE UNNES”, pungkasnya.

 

Related Posts you may like

Mahasiswa FE UNNES Sabet Juara II Nasional Accounting Writing Competition

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES) Asmara Tampi dan Asri Purwanti  meraih prestasi Juara Dua Nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Akuntansi  (Accounting Writing Competition),  Kamis – Sabtu, 2–4 Februari  di Universitas Hasanudin (UNHAS) Makasar.

Acara bergensi tahunan ini merupakan lomba ke sepuluh  yang digelar dengan nama Hasanudin Accounting Day, diikuti puluhan Perguruan Tinggi, diantaranya UGM, UNIBRAW, UNS, UNDIP, Universitas Parahyangan, UNSRI, UNIMED, Politeknik Bandung.

Dekan FE UNNES Dr Wahyono MM  mengaku bangga  dengan prestasi yang diraih mahasiswa Akuntansi FE. “Ini merupakan bukti  FE senantiasa ikut andil dalam meningkatkan pencitraan atau reputasi UNNES”,  katanya.

Ia juga mengungkapkan, tahun ini adalah tahun reputasi, mari kita bersama sama sukseskan, “prestasi sejenis ini harus diikuti oleh mahasiswa lain dengan prestasi yang lebih membanggakan”, harap Dr Wahyono.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Drs Kusmuriyanto MSi mengatakan, prestasi yang membanggakan ini selain mereka menjadi juara dua tingkat nasional, dibawah Universitas Jember, dan juara tiga Universitas Katolik Widya Mandala, paper yang ditulis mahasiswa FE UNNES terpilih menjadi Best Paper, “mampu mengalahkan universitas ternama di Indonesia”, ungkapnya.

 

 

 

 

Related Posts you may like

MANAJEMEN RAIH AKREDITASI A, PRODI FE 100% TERAKREDITASI A

Setelah melalui visitasi  Akreditasi yang dilaksanakan tanggal 18-19 Agustus 2016, akhirnya prodi Manajemen FE UNNES berhasil memperoleh akreditasi A. Visitasi dilakukan  untuk  verifikasi data faktual sebagaimana isian borang yang terkirim ke Badan Akreditasi Nasional- Perguruan Tinggi (BAN-PT).  Tim Asesor yang hadir terdiri dari Prof Dr Surachman SE MSIE  (Universitas Brawijaya) dan Prof Dr Andi Sularso MS (Universitas Jember).

Akreditasi bagi perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) sudah menjadi seperti nyawa.  akreditasi juga berguna untuk pengusulan proyek institusi.  Manfaat lain dari akreditasi adalah, bagi lulusan yang ingin bekerja apalagi ingin jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), beberapa instansi mensyaratkan akreditasi. Bahkan beberapa perusahaan swasta sudah mensyaratkan calon tenaga kerjanya harus dari perguruan tinggi yang terakreditasi minimal B bahkan harus A.

Dengan diraihnya akreditasi A ini, diharapkan banyak manfaat dan dampak positif yang akan berguna bagi seluruh civitas akademika baik dalam lingkup jurusan, fakultas, maupun universitas.

Related Posts you may like

Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNNES Raih Juara 1 dan 2 Tingkat Nasional

Tim mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES) Komunitas Ilmiah Mahasiswa Ekonomi (KIME) meraih juara 1 dan 2 tingkat nasional pada Kompetisi Ilmiah Mahasiswa Nasional (KIMNAS) 2016 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) selama tiga hari Jumat-Minggu (11-13/11).

Tim yang diketuai Wahyu Nursiswo dengan dosen pembimbing Sandy Arief SPd MSc menyampaikan bahwa Tim KIME UNNES berhasil meraih 2 Juara sekaligus yakni juara 1 kategori lomba Poster dan juara 2 kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI).

Tiga Mahasiswa itu adalah Wahyu Nursiswo yang merupakan Ketua KIME FE UNNES, Mar’atus Sholikah (Sekretaris KIME FE UNNES), dan Farhan Zakki Nugraha (Staff Humjar KIME FE UNNES).

Menurut Wahyu Nursiswo, keberhasilan tim ini merupakan perjuangan keras dan menggapai apa yang menjadi cita-cita adalah hal yang wajib dilakukan.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai Universitas yang ada di Indonesia, diantaranya UGM, IPB, Unair, Unesa, UPI, Unsri, Universitas Pertamina Jakarta, IKIP PGRI Madiun, dan UNNES.

Dalam penyelenggaraannya ada 4 cabang lomba yang dilombakan, yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Debat, Esai, dan lomba Poster. Kompetisi dimulai dari tahap seleksi abstrak yang kemudian berakhir pada tahap final yaitu presentasi.

Adapun keluar sebagai juara yakni kategori Lomba Poster, juara 1 UNNES, juara 2 Universitas Pertamina Jakarta, dan juara 3 IPB.

Kategori LKTI juara 1 Unesa, juara 2 UNNES, juara 3 IPB. Ketegori Debat juara 1 UGM, juara 2 IPB, juara 3 Universitas Pertamina Jakarta. Sedangkan kategori Esai, juara 1 Unair, juara 2 Unesa, dan juara 3 Unair.

Diharapkan prestasi ini bisa memotivasi mahasiswa lainnya untuk selalu berjuang dan berprestasi.

Sumber https://unnes.ac.id/berita/mahasiswa-fakultas-ekonomi-unnes-raih-juara-1-dan-2-tingkat-nasional/

Related Posts you may like