Duta Akuntansi 2017

Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi mengadakan acara Duta Akuntansi (28/10/2017) di Gedung C3 FE UNNES. Dalam acara ini dihadiri oleh Drs. Asrori.,MM selaku Kepala Laboratorium Jurusan Akuntansi.

Duta Akuntansi merupakan kegiatan yang diadakan HIMA Jurusan Akuntansi dengan tujuan memilih mahasiswa berprestasi di Jurusan Akuntansi. Dalam kegiatan ini diikutin oleh 24 mahasiswa Jurusan Akuntansi dari semester satu sampai lima.

Duta Akuntansi memilih tema “Future Accountant”, yang diharapkan dengan tema tersebut output dari mahasiswa Akuntansi bisa membangun Indonesia di bidang keuangan yang akan datang dengan kepandaian dan akhlak baik.

Acara ini memiliki empat tahap seleksi yang diseleksi langsung oleh para juri. Juri dari Duta Akuntansi 2017 yaitu Kuat Waluyo Jati,SE.,M.Si. (dosen Akuntansi UNNES), Tusyanah,S.Pd.,M.Pd. (dosen Pendidikan Ekonomi UNNES) dan Dani Puspitasari (Mawapres UNNES 2017). Tahap pertama yaitu seleksi sepuluh besar esai terbaik dari 24 esai dengan tema yang ditentukan. Tahap kedua seleksi 5 peserta dengan tes tertulis, selanjutnya tahap ketiga seleksi 3 finalis presentasi esai terbaik dengan menggunakan bahasa Inggris. Tahab terakhir pemilihan juara 1,2 dan 3 yang ditentukan dengan problem solving.

Pemenang dari Duta Akuntansi 2017 yaitu Juara 1 Neni Uciati dari Akuntansi A 2015, Juara 2 Ahwan Solih dari Akuntansi B 2016, dan Juara 3 Fitri Yuliani dari Akuntansi A 2016.

Dengan adanya kegiatan  tersebut, Hima Jurusan Akuntansi sangat berharap para pemenang dan peserta dapat melaju seleksi mawapres Fakultas Ekonomi dan menjadi Akuntan yang baik kedepannya.

Related Posts you may like

FE UNNES menanam pohon lagi

Menanam pohon adalah kewajiban bagi seluruh mahasiswa Universitas Negeri Semarang. kegiatan ini merupakan perwujudan dari visi Unnes menjadi Universitas yang berwawasan konservasi dan bereputasi internasional. Kegiatan penanaman pohon juga merupakan upaya menanamkan rasa cinta lingkungan bagi generasi muda.

Sabtu, 28 oktober 2017 Fakultas Ekonomi melaksanakan kegiatan penanaman pohin bagi mahasiswa angkatan 2016. Diikuti tak kurang dari 900 mahasiswa dan mengambil tempat di kelurahan Mangunsari Kecamatan Gunungpati. Kegiatan ini dilaksanakan dengan antusias oleh mahasiswa.

Di sela-sela kegiatan penanaman, Ketua gugus pengembang konservasi Fakultas Ekonomi, Dr. Amin Pujiati, mengatakan bahwa, fakultas Ekonomi berkomitmen untuk mendukung program universitas agar mahasiswa dapat menanam pohon. Lebih lanjut beliau berharap, kegiatan ini tidak berhenti. Mahasiswa wajib merawat tanamannya sehingga program penghijauan tidak hanya bersifat sporadis tapi mengandung unsur kebermanfaatan dalam jangka panjang.

Pada kesempatan tersebut mahasiswa juga terlihat antusias mengikuti penanaman pohon. Mereka berpendapatan bahwa selain menjadi kewajiban dan syarat wisuda, menanam pohon dapat memberikan sensasi baru bagi mereka. Banyak mahasiswa mengaku baru pertama kali menanam pohon. Sehingga pengalaman baru ini diharapkan akan membuat mereka lebih mencintai lingkungan.

Lebih lanjut, ketua panitia kegiatan Avi Budi Setiawan melaporkan bahwa pada kegiatan penanaman ini jenis tanaman yang di tanama adalah buah-buahan. Yang terdiri dari belimbing, durian, sawo kecik, jambu air, jambu kristal dan petai. adapun seluruh bibit pohon disediakan oleh UPT Pengembang Konservasi Unnes.

Harapan ke depan, pohon yang ditanam ini bisa tumbuh dan berkembang. Sehingga akan banyak manfaat yang diperoleh, tak hanya manfaat berupa lestarinya lingkungan, namun juga manfaat ekonomi. Namun itu semua akan terjadi apabila program ini tak hanya berhenti pada penanaman tapi juga perawatan.

Related Posts you may like

DUA MAHASISWA FE UNNES MENGIKUTI INTERNATIONAL CONFERENCE DI FILIPINA

Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNNES kini kembali menorehkan prestasi Internasional dengan mengikuti Konferensi Internasional. Dani Puspitasari (Mapres I UNNES 2017 dan Staff Riset Kime FE UNNES 2016) dan David Indra Gunawan (Kepala Departemen Riset Kime FE UNNES 2017), mahasiswa Jurusan Akuntansi FE Unnes yang berhasil mengikuti acara “The 5th Internasional Conference on Studies In Business, Management, Education and Law, Manila, Philippines” pada tanggal 18-19 September 2017.

Acara ini diselenggarakan di Hotel Banilde Maison De La Salle, Manila, Phillipines. Tujuan dari acara ini yaitu untuk mengumpulkan para peneliti dan mempresentasikan hasil penelitian yang dimiliki, serta saling bertukar pikiran mengenai topik penelitian terbaru. Tidak hanya mahasiswa S1, acara bergengsi ini juga diikuti oleh mahasiswa S2, Doktor, Professor, Dosen yang berasal dari Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, India, Sri Lanka, dan Eropa.

Terbukti, jika internasionalisasi telah dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi UNNES. Hal ini menunjukkan jiwa prestatif dan kompetitif telah tumbuh dan menjadi bagian dari mahasiswa ekonomi untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Related Posts you may like

“Gita Ekonomia Choir” raih Medali Perak Satya Dharma Gita National Choir Festival 2017

Tim Paduan Suara Fakultas Ekonomi Unnes “Gita Ekonomia Choir” meraih Medali Perak pada kategori Folklore atau lagu rakyat dalam ajang Satya Dharma Gita National Choir Festival ke-6 tahun 2017 (SDGNCF-6th). Acara SDGNCF ini berlangsung selama 5 hari dari tanggal 23 – 27 Agustus 2017 di Auditorium Imam Bardjo Undip Peleburan.

Gita Ekonomia Choir dalam lomba kali ini membawakan 3 buah lagu yakni Leron-leron Sinta dari Philipina, Gelung Perada dari NTB, dan Prau Layar dari Jawa Tengah. Pada event ini Paduan Suara Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unnes bersaing dengan Tim Paduan Suara Mahasiswa dari berbagai Universitas seperti ITS, UNDIP, UNS, UNTIRTA, IAIN Salatiga, dll.

Harapan dari lomba ini ialah menjadikan rasa semangat kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi untuk terus berprestasi. Untuk itu, bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi yang mempunyai bakat dalam bidang seni khususnya menyanyi dapat bergabung dengan Tim Paduan Suara Gita Ekonomia Choir. Keep Singing!!!

Related Posts you may like

Oki terpilih menjadi Delegasi Indonesia dalam Asean Youth Summit 2017 di Manila, Philipines.

Oki Sadma, Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES) terpilih menjadi Delegasi Indonesia untuk mengikuti Asean Youth Summit (AYS) 2017 bersama 150 pemuda Se-Asean.

Asean Youth Summit 2017  ini di selenggarakan di manila, Philipines selama 5 hari mulai 23-27 April 2017 dengan tema “Strenght in Diversity , Building One Asean Community”. Konferensi ini diikuti oleh para pemuda yang berasal dari negara Se-Asean yaitu Indonesia, Singapore, Malaysia, Philipines, Brunei Darussalam, Myanmar, Laos, Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Pemuda yang kerap disapa oki ini merupakan mahasiswa yang memiliki prestasi. Ia merupakan Ketua Himpunan mahasiswa jurusan Akuntansi 2015, penerima beasiswa Djarum Foundation serta Grand finalis Putra- putri lingkungan hidup Kota semarang 2017.

Pada ajang ini Oki mengikuti konferensi pemuda global yang diintegrasikan dengan simulasi konferensi Asean. Dimana pada ajang ini para delegasi diajak untuk memahami asean, bertukar gagasan dan membahas isu utama yang menjadi perhatian di asean mulai dari Keamanan, politik, Ekonomi, sosial dan budaya. Selain itu kegiatan ini juga disertai dengan  coaching session, networking session, Cultural night dan Manila field trip.

Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali dalam memperkaya wawasan Asean dan kepemudaan serta memperluas jaringan relasi internasional,  apa lagi saat ini kita telah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), jelas oki.

Ia berharap akan lebih banyak lagi ajang yang serupa yang dapat memberi kesempatan pada pemuda lainya khususnya mahasiswa unnes untuk memperkaya pengalamanya di tingkat internasional.

Related Posts you may like

Lagi, Mahasiswa Akuntansi FE Juara II Tingkat Nasional

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (UNNES) meraih Juara Dua Nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Akuntansi pada kejuaraan Sriwijaya Accounting Olympiad, Kamis – Sabtu (6-9/4) di Universitas Sriwijaya Palembang. Mereka yakni Nurul Kholifah, Diyah Damayanti, dan Erna Suprapti.

Dekan FE UNNES Dr Wahyono MM mengaku bangga dengan prestasi yang diraih mahasiswa Akuntansi FE. “Ini merupakan bukti FE senantiasa ikut andil dalam meningkatkan pencitraan atau reputasi UNNES,” katanya.

Tahun 2017 ini UNNES mencanangkan sebagai tahun reputasi, mari kita bersama sama menyukseskan dengan cara mendorong mahasiswa berprestasi, ajak Dr Wahyono.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kusmuriyanto mengatakan Prestasi yang membanggakan ini diharapkan mampu menjadi pemacu mahasiswa yang lain untuk terus berprestasi.

 

Related Posts you may like

Dani Puspitasari dan Tubagus Fahmi menjadi Mawapres FE UNNES

Semarang- Sebanyak sembilan orang finalis mahasiswa berprestasi telah menunjukan kompetensi terbaiknya dalam acara puncak Pemilihan Mahasiswa Berprestasi FE UNNES pada Sabtu (18/3) lalu. Sembilan finalis yang merupakan mahasiswa berprestasi jurusan itu tidak lain adalah Wahyu Nursiswo, Mar’atus Sholikah, dan Umi Thoifah Amalia dari Jurusan Pendidikan Ekonomi; Fauzul Adzim dan Kurniasih dari Jurusan Ekonomi Pembangunan; Dani Puspitasari dan David Indra Gunawan dari Jurusan Akuntansi; serta Tubagus Fahmi dan Muhammad Reza Fatha dari Jurusan Manajemen.
Acara yang berlangsung di Gedung C3 120-121 ini dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Drs. Kusmuriyanto, M.Si. dan dihadiri oleh segenap dewan juri dan tamu undangan. Ketua Panitia Pemilihan Mawapres FE, Nurdian Susilowati, S.Pd, M.Pd,. menjelaskan teknis rangkaian penilaian, yaitu kesembilan finalis melakukan presentasi karya tulis dan melakukan Focus Group Discussion yang dibagi menjadi dua sesi.
Setelah melalui serangkaian tahap penilaian, akhirnya terpilihlah Dani Puspitasari (Jurusan Akuntansi) sebagai Mawapres 1 dan Tubagus Fahmi (Jurusan Manajemen) sebagai Mawapres 2 yang selanjutnya akan mewakili FE untuk berkompetisi di pemilihan Mawapres tingkat universitas.
“Menjadi seperti ini tidak pernah tertulis dalam mimpi saya, karena mungkin terlalu berlebih untuk menjadi mawapres”, ungkap Dani, mawapres 1 FE. Mahasiswa asal Kudus yang memiliki motto khoirunnas anfa’uhum lillas (sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi manusia lain) ini juga memohon dukungan, doa dan ridho dari seluruh dosen dan mahasiswa FE untuk maju dalam pemilihan mawapres tingkat universitas.
Pemlihan mahasiswa berprestasi adalah agenda tahunan fakultas dan universitas. Pemilihan ini dilaksanakan dengan terlebih dahulu membuka pendaftaran dan pengumpulan berkas bagi seluruh mahasiswa yang berminat mengikuti pemilihan ini. Adapun penilaian pemilihan mawapres FE ini meliputi IPK, karya tulis, berkas prestasi, dan penilaian ringkasan karya tulis dalam bahasa inggris serta FGD. Semoga dengan terpilihnya mawapres FE ini dapat memberikan yang terbaik di tingkat Universitas dan Nasional serta dapat memotivasi mahasiswa FE pada umumnya untuk dapat lebih berprestasi.

Related Posts you may like

PANGAN PETANI DAN KEMISKINAN

Petani memang selalu identik dengan kemiskinan. Data BPS menunjukan dari 27,76 juta penduduk miskin di Indonesia, 17,28 juta diantaranya adalah penduduk perdesaan yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Kondisi ini tak pernah bergerak dari zaman kolonial hingga kini. Petani dan sektor pertanian masih dianggap pekerjaan yang berkubang dengan jerat kemiskinan.

Nilai tukar petani (NTP) selama 2016 tahun juga mengalami tren penurunan. Pada bulan juni nilai NTP sebesar 101,47 Angka ini menurun jika dibandingkan NTP bulan januari yang sebesar 102,55. Artinya terjadi kecenderungan penurunan kesejahteraan petani di Indonesia. Apa yang terjadi sebenarnya sudah cukup menggambarkan kondisi kehidupan petani di balik upaya untuk mendorong swasembada pangan.

Belakangan pemerintah memang menunjukan keseriusan yang tinggi untuk menggenjot produksi pangan. Komoditas ini menjadi fokus karena terkait langsung dengan fluktuasi harga, stabilitas sosio ekonomi dan elemen strategis lain. Terlihat jelas bahwa pemenuhan pangan mandiri adalah isu terpenting. Pangan adalah komoditas krusial yang harus dijaga suplainya.

Anggaran besar disiapkan untuk mendorong swasembada padi, jagung, kedelai dan daging sapi. Tapi sekali lagi fokus utamanya masih pada upaya menggenjot produksi. Hal ini tidaklah salah, karena dasar pijakannya adalah tingginya konsumsi nasional dan fluktuasi produksi di tengah tantangan penurunan produktivitas. Di sisi lain, komoditas pangan juga menjadi penyumbang utama inflasi.  Sehingga pergerakan harga dan pasokannya harus dijaga.

Ukuran prestasi dari para pemangku kepentingan yang paling bisa dilihat juga berupa deretan angka peningkatan produksi, laju produktivitas, penambahan areal luasan tanam, naiknya ekspor dan menurunnya impor dan deretan data lain. Memang tantangan utama yang dihadapi kini adalah upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi yang besar mengikuti penambahan jumlah penduduk. Di saat yang sama, tantangan yang dihadapi adalah tergesernya pertanian sebagai elemen inti pembangunan.

 

 

Bagaimana dengan Kesejahteraan Petani?

    Entah karena mendesak atau bagaimana, namun sepertinya para pihak yang berkepentingan belum menempatkan kesejahteraan petani sebagai fokus utama sasaran pembangunan. Kesejahteraan petani masih dipandang sebagai dampak ikutan apabila produksi dan produktivitas komoditas pertanian dapat digenjot. Padahal, jika boleh dikatakan hal tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Pemenuhan kebutuhan pangan harus diikuti dengan keterjangkauan harga. Berarti fokusnya disini adalah pangan yang tersedia dengan harga yang terjangkau jika tak boleh dikatakan murah. Maka tak heran apabila trilyunan dihabiskan untuk menggenjot produksi.

Tapi siapa peduli dengan nasib petani. Yang penting harga bahan pangan harus terjangkau. Dengan karakter yang perishable ditambah dengan pola distribusi yang panjang.  Mana mungkin harga akan terjangkau tanpa mengorbankan petani sebagai produsennya?

Kebijakan subsidi juga lebih diarahkan pada upaya peningkatan produksi secara langsung. Seperti pemberian subsidi pupuk, bibit unggul, alsintan, modal usaha, serta pembangunan infrastruktur hulu dan on-farm. Belum ada kebijakan yang mengarah langsung pada upaya peningkatan kesejahteraan petani. Semua harus ditransmisikan dulu ke dalam strategi peningkatan produksi pangan. Seolah-olah petani harus bekerja maksimal dulu baru kemudian bisa sejahtera.

Sekali lagi ini tidaklah salah. Mengingat peningkatan produksi adalah hal yang sangat mendesak. Tapi, dengan menjadikan petani sebagai mesin produksi yang harus menghidupi jutaan orang tapi mereka sendiri berkubang dalam kemiskinan sepertinya tidak adil. Di mana letak keadilan jika pembentukan harga komoditas pertanian ditentukan oleh mekanisme pasar yang sebenarnya telah terdistorsi tanpa pemerintah turut campur.

Selama ini subsidi hulu cenderung lebih menguntungkan konsumen dibandingkan produsen, yang dalam hal ini petani. Karena membuat harga menjadi lebih murah, sehingga surplus konsumen lebih besar dibandingkan surplus produsen yang diterima petani. Bahkan kadang lebih menguntungkan industri hulu macam perusahaan penyedia berbagai faktor produksi yang sebenarnya telah memiliki kekuatan finansial dan portofolio usaha yang jauh mentereng.

Di beberapa Negara, subsidi hulu bukan lagi menjadi instrumen satu-satunya dalam mendorong kinerja sektor pertanian utamanya tanaman pangan. Pemerintah di beberapa Negara menyadari bahwa petani perlu diberikan insentif langsung yang dapat merangsang mereka lebih produktif lebih dari sekedar bantuan pemberian faktor produksi.

Dalam hal ini subsidi hilir dapat  menjadi alternbatif. Implementasinya adalah penetapan harga eceran tertinggi (Ceiling Price). Di Jepang 85 persen pendapatan petani berasal dari subsidi harga dari pemerintah. Beberapa contoh lain seperti Thailand dan Amerika Serikat juga memberlakukan kebijakan yang hampir serupa. Apa yang mereka lakukan sebenarnya dalam rangka peningkatan produksi dan upaya mensejahterakan petani secara langsung.

Kesejahteraan petani sepertinya akan mustahil tercapai jika kita masih terlalu fokus pada produksi saja. Pemahaman itu hanya akan membuat petani tak lebih dari sekedar mesin penghasil pangan. Perlu upaya langsung yang lebih menyentuh mereka. Petani yang kebanyakan buruh tani ini tak akan menikmati keuntungan meskipun produksi melimpah, karena harga jual yang bias.

Maka percuma jika ingin mengangkat petani dari jurang kemiskinan tapi tidak memegang akar masalahnya. Tak cukup meningkatkan produksi saja, harus ada mekanisme jaring perlindungan harga jual agar NTP petani tak semakin turun. Di samping memang paradigma petani sendiri yang harus diubah agar lebih visioner.

Di sisi lain, perlu ada penataan pada rantai distribusi komoditas pangan yang cenderung oligopsoni dan oligopoli ini. Mengutip pernyataan dari Jean Tirole pemenang Nobel ekonomi yang mengatakan, ketika di suatu pasar ada yang menjadi market leader, maka satu cara untuk mengontrolnya adalah dengan menciptakan regulasi.

Avi Budi Setiawan; Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan/ Peneliti K2EB

Related Posts you may like

KSEI UNNES Juara II Lomba LKTI Tingkat Jawa Tengah

Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi  (FE) Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang merupakan Badan Semi Otonom Fakultas berhasil meraih juara dua tingkat Jawa Tengah dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah, Sabtu-Minggu 3-4 Februari di Kampus Unissula Jalan Raya Kaligawe Semarang.

Acara yang digelar dalam rangka temu ilmiah ekonomi islam se-Jawa Tengah di ikuti puluhan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Drs Kusmuriyanto MSi, mengungkapkan sangat bangga dan mengapresiasi prestasi tersebut, dari kompetisi seperti inilah mahasiswa berlatih, ditempa untuk tampil berkreasi, berpikir dan mengungkapkan gagasannya untuk menyelesaikan beberapa masalah yang ada di masyarakat sesuai bidang ilmunya. “Prestasi ini semoga diikuti mahasiswa lain untuk meraih prestasi yang lebih membanggakan, selamat dan sukses untuk mahasiswa FE UNNES”, pungkasnya.

 

Related Posts you may like