MAHASISWA: ANTARA AKADEMIS DAN ORGANISASI

 

Oleh: Fransisca Rachmawati Indira

Universitas akan membuat anda belajar banyak hal, meskipun anda jarang masuk kelas. Setiap hari belajarlah sesuatu hal berharga. Baik itu di mata kuliah anda, di organisasi anda, maupun ditempat nongkrong anda. Mahasiswa adalah seorang pembelajar. (bijakkata.com)

Berikut sebuah konsep tentang mahasiswa, mahasiswa dalam Peraturan Pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah  peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Mahasiswa menurut Knopfemacher adalah insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-calon intelektual. Continue reading

PROGRAM PROFESI GURU: KUALITAS VS POLEMIK

Oleh Kemal Budi Mulyono

Pendidikan sejatinya sebagai sarana untuk mengubah manusia menjadi makhluk mulia. Untuk mengejawantahkan visi tersebut maka dibutuhkan suatu organ yang sangat penting, siapa itu, salah satu organ vitalnya adalah guru. Namun menjadi guru tidaklah mudah, hal ini terjadi khususnya pada profesi guru sekolah. Beberapa fenomena yang ada seolah-olah menyudutkan bahwa guru memiliki kualitas yang cukup rendah, jumlah guru yang masih kurang, Continue reading

PERAN PEMUDA DALAM MENJAGA MARWAH KEMERDEKAAN

Oleh Novian Pambudi

Peringatan dirgahayu kemerdekaan Indonesia bukan sekadar perayaan belaka. Peringatan kemerdekaan Indonesia menjadi sebuah momen penting untuk meningkatkan jiwa nasionalisme serta mempererat persatuan dan kesatuan. Momen ini menjadi bagian penting untuk menjadi titik refleksi perjalanan kemerdekaan Indonesia dimana kita harus berkontemplasi untuk menilik sejauh mana cita-cita dari ­Founding Fathers telah tercapai. Kegiatan-kegiatan untuk memperingati kemerdekaan bangsa merupakan hal yang biasa dilakukan, Continue reading

POLITIK PANGAN

Isu kerawanan pangan memang dari dulu telah mengemuka menjadi salah satu tantangan besar umat manusia. Negara punya tugas besar untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Maka menjadi tidak mengherankan jika urusan perut ini adalah salah satu dagangan politik paling laris untuk merebut hati masyarakat. Sekaligus menjadi salah satu indikator kesuksesan pemerintah dalam mengurus bangsa. Continue reading

Ini Dia 4 Manfaat Berbuat Jujur Saat Ujian, Sudah Tahukah Kamu?

Oleh Anni Saun Nafingah

Semua orang tahu apa arti jujur, namun tak banyak orang yang bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat menjalankan ujian. Ingin mendapatkan nilai terbaik merupakan salah satu pemicu mengapa banyak orang memutuskan untuk bertindak tidak jujur. Padahal, apalah arti sebuah nilai jika dalam proses mendapatkannya tidak disertai dengan cara yang halal. Continue reading

TINGKATKAN PERSATUAN DALAM BINGKAI IDUL FITRI

 

Oleh Fentya Dyah Rahmawati (Pend. Adm. Perkantoran 2015)

Idul Fitri dimaknai sebagai hari pengembalian fitrah manusia, fitrah yang suci, tanpa dosa, bersih dan penuh cinta dan kasih sayang. Hal ini selaras dengan konsep islam bahwa asal muasal manusia ketika bayi adalah suci bersih tanpa noda. Kemudian setelah menapakkan kaki ke dunia, bayi yang suci tersebut seiring waktu pada akhirnya akan bergelimang dosa dan kesalahan. Maka, di hari Raya Idul Fitri ini sudah sepantasnya, dengan segenap hati kita saling memohon maaf dan memaafkan sesama manusia. Sekaligus memohon ampunan kepada Allah SWT, atas segala khilaf dan noda yang telah memberikan warna pekat dalam hidup. Continue reading

GEMBIRA MENJADI BAGIAN DARI TRADISI MUDIK

 

 

Oleh Sri Utami, S.S., M.A., M.Pd.

Mudik merupakan istilah yang sangat populer di Indonesia, terutama menjelang perayaan hari raya Idul Fitri. Tradisi mudik sudah menjadi seperti “kewajiban” bagi masyarakat yang pada umumnya umat muslim untuk bertemu dengan keluarga, orang tua,  teman-teman, dan lain-lain. Momen mudik di hari raya Idul Fitri dijadikan sebagai salah satu momen silaturahmi yang sangat dinantikan. Sebetulnya, apa itu mudik? Continue reading

Hijrah Permata Dewata Menuju Konservasi

Oleh: Ahmad Mulhakim
(Pendidikan Ekonomi 2015/ UNDIKSHA, Bali)

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى

الْجَنَّةِ

Artinya : ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Hadist tersebut menjadi monivasi untuk mengikuti program PERMATA di UNNES, sangat bersyukur alhamdulillah karena sebanyak 3 orang mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi dari pulau dewata diberi kesempatan luar biasa untuk menimba  ilmu di UNIVERSITAS NEGRI SEMARANG atau yang lebih akrab dengan jargonnya UNNES Konservasi.
UNNES akan menjadi rumah terindah bagi kami nantinya dalam menuntut ilmu selama 1 semester, karena disini kami akan menemukan hal baru yang tidak akan kami temukan di pulau dewata. Bagaimana tidak, secara karakter budaya saja berbeda dimana orang jawa terkenal dengan kelembutan sifat dan bahasanya yang dimana sangat berbeda dengan karakter budaya yang ada di BALI yang notabennya keras.
Gambaran umum yang kami tangkap tentang kampus Konservasi ini sangatlah indah, mulai dari indah gedung, tata ruang taman hijau dan juga indah orangnya. Gedung kampus Konservasi sendiri sangatlah unik dan berbeda dengan gedung kampus kami di bali dimana yang menjadi pembedanya yaitu terletak pada arsiteknya yang sudah modern, membuat takjubnya lagi disetiap Fakultasnya terdapat masjid ataupun mushala, tata ruang taman kampus konservasi sangatlah menarik perhatian kami, dimana sesuai dengan jargonnya tata runag tama   nya sangatlah tertata dengan rapi, bersih, nyaman sehingga menjadikan siapa saja betah berlama-lama di UNNES.
Di UNNES sendiri kami menemukan olahraga unik yang belum pernah kami jumpai sebelumnya, olaraga itu adalah TONNIS ; dimana olahraga ini menggabungkan antara badminthon dan juga tenis lapangan, ini menjadi bekal nantinya pada saat kembali ke dewata dengan membawa oleh-oleh tidak hanya budaya tetapi juga sebuah permainan olahraga yang dimana olahraga tersebut menjadi ciri khas dari kampus Konservasi.
Menurut kami Fakultas tebaik ialah Fakultas Ekonomi, mengapa tidak, gedung biru dengan taman syurga ini menjadi gedung termodern dan juga terbaik, tidak hanya siang hari terlihat enak dipandang namun juga malam harinya seakan Fakultas ini menjadi rajanya Fakultas yang ada di UNNES.
Dalam proses  pembelajaan di gedung FE ini kami merasakan sangatlah nyaman, kareana semua aspek dari gedung ini sangatlah ersih, rapi & indah,Tenaga pengajar yang professional, mahasiswa yang intelek & lingkungan akademik yang sudah membuya kepada mahasiswanya. Cirri khas FE  Tidak hanya taman yang tertata rapi juga  indah, FE juga memiliki lapangan Tonnis bahkan sering dipakai dalam ivent nasional.
Mudahan apa yang kami dapat dari Kampus Konservasi, Fakultas Ekonomi, menjadi berkah dan dapat kami jadikan bekal nantinya pada saat pulang ke Dewata BALI.

MENIADAKAN ZERO SUM GAME DALAM SEBUAH KONTESTASI

oleh : Muhammad Feriady

Kontestasi dalam beberapa bulan terahir menjadi kata khas yang seringkali diperbincangkan baik dalam surat kabar nasional maupun lokal. Kata ini seringkali membersamai tema pemilihan kepala daerah 2018 ataupun persiapan pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang.

Kontestasi sendiri berasal dari kata kontes yang dalam KBBI diartikan sebagai perlombaan atau pemilihan. Namun agaknya kata kontestasi dalam artian yang lebih sempit ahir-ahir ini mengarah pada adu gagasan dan strategi politik dalam memperebutkan simpati masyarakat.

Pada masa era keterbukaan seperti sekarang ini kontestasi tidak hanya melulu soal pertarungan antar elit yang beradu gagasan memperebutkan simpati rakyat, pun juga pertarungan antar sesama rakyat (pendukung dan simpatisan) untuk saling mengunggulkan calon yang diusungnya. Hal ini tak ayal menyebabkan berbagai gejolak social yang tak jarang mamicu konflik.

Berbagai bibit permusuhan dan perpecahan tak lagi dapat dihindari manakala masyarakat justru terlihat lebih agresif dalam pertarungan untuk membenarkan pilihan politiknya. Hal ini tentu saja berbahaya dan mengancam stabilitas nasional bahkan keberadaan NKRI sebagai negara yang majemuk dengan perbedaan horizontal yang beraneka. Walaupun cerminan ini wajar terjadi pada sebuah negara demokrasi setelah sekian lama terkurung dalam tirani.

Fenomena kontestasi seperti ini menurut saya tak ubahnya seperti sebuah pola dalam Game Theory yang disebut Zero Sum Game. Zero Sum Game pertamakali dipublikasikan pada tahun dalam buku “Theory of Games and Economic Behavior” pada tahun 1944 oleh John Von Neumann dan Oscar Morgenstrern.

Zero sum game adalah kondisi yang menggambarkan bahwa jumlah keuntungan dan kerugian dari seluruh peserta dalam sebuah permainan adalah Nol. Artinya keuntungan yang dimiliki atau didapatkan oleh seorang pemain berasal dari kerugian yang dialami oleh pemain lainya. Hal ini pasti ada dalam sebuah game, namun apakah zero sum game ini menjadi pantas apabila terjadi dalam kontestasi yang katanya bertujuan untuk kepentingan bangsa dan negara?

Menyoal tentang pertarungan di akar rumput oleh simpatisan pendukung pasangan calon peserta pemilu tentu saja merupakan hal yang merugikan apabila terjadi kondisi zero sum game didalamnya. Betapa tidak, Pendukung dari “si kalah” akan dibully habis dan pendukung “si menang” seolah menjadi yang empunya negara.

Pada babak selanjutnya giliran pendukung “si kalah” menjadi pengkritik serba tahu dan pendukung “si menang” menjadai objek serba salah. Kompetisi yang dilakoni para elit seolah menempatkan masyarakat sebagai serdadu perang dengan berbagai gerakan masiv di social media bahkan dunia nyata, sementara para elit sibuk menikmatinya. Sebuah kontestasi yang berahir layaknya permainan judi di meja poker dengan zero sum game didalamnya, padahal hakikatnya proses ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara.

Non Zero Sum Game

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mungkin proses yang sejak 2014 bahkan sejak pertamakali reformasi bergulir yang selalu menempatkan serdadu rakyat dalam pertarungan ini berahir dengan Non Zero sum game (kebalikan Zero Sum Game)? Mungkinkah semua pendukung peserta kontestasi menjdai kelompok yang sama-sama menang? Pertanyaan serupa pasti terngiang dalam banyak benak masyarakat yang sudah terlalu jenuh dengan berbagai pertarungan antar pendukung dan simpatisan yang bahkan melewati batas rasional yang mereka punya.

Didalam Game Theory sebenarnya kondisi yang terjadi tidak harus Zero Sum Game, dapat juga berlaku Non Zero Sum Game dengan hasil win-win atau lose-lose solution. Keadaan ini tentu akan berlaku dengan asumsi kelompok pemilih disini adalah orang yang melakukan permainan.

Kita ibaratkan mereka seperti halnya perusahaan yang menetapkan strategi dalam pasar. Mereka bebas menentukan kriteria pemimpin seperti apa yang layak untuk mereka. Keadaan ini berbeda dengan realita saat ini  dimana kebanyakan pemilih dan simpatisan justru menjadi pasar yang menjatuhkan pilihanya dengan tidak rasional.

Metode lain dalam Game theory dapat menjelaskan kondisi win-win solution ini, salah satunya adalah Nash equilibrium yang dipopulerkan oleh Jhon Nash 1950. theory ini menjelaskan bahwa salah satu pemain akan menyusun sebuah strategi berdasarkan strategi yang dilakukan oleh pemain lawan.

Permasalahanya adalah kita dihadapkan pada ketidaktahuan kita terhadap keinginan pemain lawan, dalam Game Theory disebut sebagai the Prisoners dilemma. Demikian seperti halnya para pendukung dan simpatisan pasangan calon yang sama-sama tidak mengetahui sebenarnya apa yang penting dan diinginkan oleh pendukung dan simpatisan lainya.

Itu sebabnya Nash mengatakan bahwa Equilibrium Nash hanya cocok untuk analisis jangka pendek, dalam jangka Panjang sebagiknya para pelaku permainan berkerjasama. Hal ini didukung kuat oleh ilmuan peraih Nobel lainya seperti Thomas C Schelling dan Robert Aumann.

Pada tahap selanjutnya dalam Game Theory adalah metode Enforcing a Cartel, dimana didalam pasar duopilis perusahaan dapat menetapkan sendiri harga mereka, kemudian terjadi persaingan harga. Akan aman jika mereka menetapkan harga sesuai kesepakatan dan memperoleh untung bersama sebanyak-banyaknya.

Demikian dengan para pendukung dan simpatisan, alangkah baiknya jika mereka duduk Bersama kemudian mendiskusikan kriteria calon pemimpin yang ideal menurut mereka dan syarat wajib yang harus dimiliki. ketika terjadi kontestasi dan kedua calon yang mereka usung bertarung mereka tidak perlu beradu fisik dan pikiran, karena siapapun yang menjadi pemenangnya pada dasarnya adalah sama.

Hal ini dikarenakan kriteria calon yang mereka bela sudah disepakati sama. Apabila ini bisa diterapkan tentunya siapa yang menjadi pemenang dalam kontestasi akan diterima oleh semua. Demikian juga dengan yang kalah dalam kontestasi maka akan merasa menjadi pemenang bersama dari hasil yang ada.

Pada pandangan yang disampaikan penulis idealnya kesepakatan-kesepakatan tentang kriteria calon yang akan dipilih beserta syarat yang harus dimiliki merupakan hal yang substantive bagi masing-masing pendukung.

Namun seperti halnya pada Game Theory dalam menganalisis perilaku pasar oligopoli syarat yang paling utama adalah jika semua pemain dalam permainan ini melakukan tindakan rasional. Pertanyaan yang tidak dapat dijawab saat ini adalah apakah para pendukung dan simpatisan bahkan diri kita adalah orang yang berpikir rasional dalam pemilihan umum?