POLITIK PANGAN

Isu kerawanan pangan memang dari dulu telah mengemuka menjadi salah satu tantangan besar umat manusia. Negara punya tugas besar untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Maka menjadi tidak mengherankan jika urusan perut ini adalah salah satu dagangan politik paling laris untuk merebut hati masyarakat. Sekaligus menjadi salah satu indikator kesuksesan pemerintah dalam mengurus bangsa. Continue reading

TINGKATKAN PERSATUAN DALAM BINGKAI IDUL FITRI

 

Oleh Fentya Dyah Rahmawati (Pend. Adm. Perkantoran 2015)

Idul Fitri dimaknai sebagai hari pengembalian fitrah manusia, fitrah yang suci, tanpa dosa, bersih dan penuh cinta dan kasih sayang. Hal ini selaras dengan konsep islam bahwa asal muasal manusia ketika bayi adalah suci bersih tanpa noda. Kemudian setelah menapakkan kaki ke dunia, bayi yang suci tersebut seiring waktu pada akhirnya akan bergelimang dosa dan kesalahan. Maka, di hari Raya Idul Fitri ini sudah sepantasnya, dengan segenap hati kita saling memohon maaf dan memaafkan sesama manusia. Sekaligus memohon ampunan kepada Allah SWT, atas segala khilaf dan noda yang telah memberikan warna pekat dalam hidup. Continue reading

GEMBIRA MENJADI BAGIAN DARI TRADISI MUDIK

 

 

Oleh Sri Utami, S.S., M.A., M.Pd.

Mudik merupakan istilah yang sangat populer di Indonesia, terutama menjelang perayaan hari raya Idul Fitri. Tradisi mudik sudah menjadi seperti “kewajiban” bagi masyarakat yang pada umumnya umat muslim untuk bertemu dengan keluarga, orang tua,  teman-teman, dan lain-lain. Momen mudik di hari raya Idul Fitri dijadikan sebagai salah satu momen silaturahmi yang sangat dinantikan. Sebetulnya, apa itu mudik?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik mempunyai arti pulang ke kampung halaman. Pulang itu sendiri bermakna kembali ke rumah atau ke tempat asalnya. Artinya jika seseorang mudik berarti bahwa orang tersebut pulang ke kampung halaman/ke rumah/ke tempat asal. Sehingga, jika ditilik dari arti menurut KBBI, penggunaan istilah mudik sejatinya tidak hanya dapat dipakai saat momen lebaran saja, tetapi kapanpun dimana perantau ingin pulang ke rumah atau atau tempat dimana dia berasal. Sehingga, dalam arti luas, pemudik adalah seseorang yang pulang kampung dalam waktu tertentu. Sehingga, mudik bisa dilakukan oleh siapa saja, dari agama apapun, dan negara manapun.

Setiap tahun, fenomena masyarakat pulang ke tempat asal (mudik) juga terjadi dibeberapa negara pada waktu tertentu. Misalnya saja di Amerika. Masyarakat Amerika melakukan mudik di hari  libur nasional Thanksgiving atau hari Pengucapan Syukur. Warga Amerika yang merantau melakukan aktifitas mudik ini untuk berkumpul bersama keluarga besar yang biasanya dilengkapi dengan menyantap kalkun bersama. Di negara lain, China misalnya, tradisi mudik dilakukan oleh ratusan juta penduduk di Tahun Baru Imlek.  Sehingga disebut-sebut bahwa liburan Imlek Cina merupakan migrasi terbesar di dunia.  Selain itu, di India, Hari Diwali juga hari yang sangat dinantikan oleh masyarakat terutama yang beragama Hindu. Pasalnya, menjelang hari libur Diwali, para perantau akan berbondong-bondong mudik ke kampung halaman untuk merayakan Festival of Lights ini bersama keluarga besar.

Jika demikian, mudik dilakukan tidak hanya di Indonesia hanya saja waktu khusus mudiknya yang berbeda-beda. Jika di Amerika tradisi mudik dilakukan saat perayaan Thanks Giving, di China saat libur Imlek, dan di India saat perayaan Diwali, momen mudik terbesar di Indonesia terjadi saat menjelang perayaan Hari raya Idul fitri yaitu hari Raya umat Muslim yang jika di Amerika momen berkumpul bersama keluarga besar dilengkapi dengan santapan kalkun, sedangkan mudik di hari raya Iedul fitri, santapan khasnya adalah ketupat dan opor ayam. Mudik di hari libur saat Hari Raya Idul Fitri tidak hanya ada di Indonesia, dinegara lain yang mayoritas penduduknya muslim pun, masyarakatnya melakukan hal yang sama. Sebut saja Malaysia, Pakistan, begitu juga dengan Bangladesh.

Bagi warga Indonesia, termasuk warga Universitas Negeri Semarang (UNNES), mudik di hari raya lebaran merupakan perayaan libur yang sangat dinanti-nantikan karena tidak hanya bertemu dengan orang tua, saudara, tetapi momen ini juga umumnya dimanfaatkan untuk mengadakan acara reuni teman-teman SMP maupun SMA, bersilaturahmi dengan para guru, tetangga, dan lain-lain.

Semoga momen hari libur di Hari raya Idul Fitri ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Umumnya, bagi umat muslim, setelah menyiapkan “bekal” selama satu bulan penuh dengan berpuasa di bulan Romadhan, menjadi bagian dari momen mudik di hari raya Idul Fitri merupakan proses yang menggembirakan. Artinya, gembira telah menyambut Romadhon, gembira menjalankan puasa di bulan Romadhon, dan gembira pula dapat melewati dan dapat mudik-kembali- ke kampung halaman.

Hijrah Permata Dewata Menuju Konservasi

Oleh: Ahmad Mulhakim
(Pendidikan Ekonomi 2015/ UNDIKSHA, Bali)

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى

الْجَنَّةِ

Artinya : ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Hadist tersebut menjadi monivasi untuk mengikuti program PERMATA di UNNES, sangat bersyukur alhamdulillah karena sebanyak 3 orang mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi dari pulau dewata diberi kesempatan luar biasa untuk menimba  ilmu di UNIVERSITAS NEGRI SEMARANG atau yang lebih akrab dengan jargonnya UNNES Konservasi.
UNNES akan menjadi rumah terindah bagi kami nantinya dalam menuntut ilmu selama 1 semester, karena disini kami akan menemukan hal baru yang tidak akan kami temukan di pulau dewata. Bagaimana tidak, secara karakter budaya saja berbeda dimana orang jawa terkenal dengan kelembutan sifat dan bahasanya yang dimana sangat berbeda dengan karakter budaya yang ada di BALI yang notabennya keras.
Gambaran umum yang kami tangkap tentang kampus Konservasi ini sangatlah indah, mulai dari indah gedung, tata ruang taman hijau dan juga indah orangnya. Gedung kampus Konservasi sendiri sangatlah unik dan berbeda dengan gedung kampus kami di bali dimana yang menjadi pembedanya yaitu terletak pada arsiteknya yang sudah modern, membuat takjubnya lagi disetiap Fakultasnya terdapat masjid ataupun mushala, tata ruang taman kampus konservasi sangatlah menarik perhatian kami, dimana sesuai dengan jargonnya tata runag tama   nya sangatlah tertata dengan rapi, bersih, nyaman sehingga menjadikan siapa saja betah berlama-lama di UNNES.
Di UNNES sendiri kami menemukan olahraga unik yang belum pernah kami jumpai sebelumnya, olaraga itu adalah TONNIS ; dimana olahraga ini menggabungkan antara badminthon dan juga tenis lapangan, ini menjadi bekal nantinya pada saat kembali ke dewata dengan membawa oleh-oleh tidak hanya budaya tetapi juga sebuah permainan olahraga yang dimana olahraga tersebut menjadi ciri khas dari kampus Konservasi.
Menurut kami Fakultas tebaik ialah Fakultas Ekonomi, mengapa tidak, gedung biru dengan taman syurga ini menjadi gedung termodern dan juga terbaik, tidak hanya siang hari terlihat enak dipandang namun juga malam harinya seakan Fakultas ini menjadi rajanya Fakultas yang ada di UNNES.
Dalam proses  pembelajaan di gedung FE ini kami merasakan sangatlah nyaman, kareana semua aspek dari gedung ini sangatlah ersih, rapi & indah,Tenaga pengajar yang professional, mahasiswa yang intelek & lingkungan akademik yang sudah membuya kepada mahasiswanya. Cirri khas FE  Tidak hanya taman yang tertata rapi juga  indah, FE juga memiliki lapangan Tonnis bahkan sering dipakai dalam ivent nasional.
Mudahan apa yang kami dapat dari Kampus Konservasi, Fakultas Ekonomi, menjadi berkah dan dapat kami jadikan bekal nantinya pada saat pulang ke Dewata BALI.

MENIADAKAN ZERO SUM GAME DALAM SEBUAH KONTESTASI

oleh : Muhammad Feriady

Kontestasi dalam beberapa bulan terahir menjadi kata khas yang seringkali diperbincangkan baik dalam surat kabar nasional maupun lokal. Kata ini seringkali membersamai tema pemilihan kepala daerah 2018 ataupun persiapan pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang.

Kontestasi sendiri berasal dari kata kontes yang dalam KBBI diartikan sebagai perlombaan atau pemilihan. Namun agaknya kata kontestasi dalam artian yang lebih sempit ahir-ahir ini mengarah pada adu gagasan dan strategi politik dalam memperebutkan simpati masyarakat.

Pada masa era keterbukaan seperti sekarang ini kontestasi tidak hanya melulu soal pertarungan antar elit yang beradu gagasan memperebutkan simpati rakyat, pun juga pertarungan antar sesama rakyat (pendukung dan simpatisan) untuk saling mengunggulkan calon yang diusungnya. Hal ini tak ayal menyebabkan berbagai gejolak social yang tak jarang mamicu konflik.

Berbagai bibit permusuhan dan perpecahan tak lagi dapat dihindari manakala masyarakat justru terlihat lebih agresif dalam pertarungan untuk membenarkan pilihan politiknya. Hal ini tentu saja berbahaya dan mengancam stabilitas nasional bahkan keberadaan NKRI sebagai negara yang majemuk dengan perbedaan horizontal yang beraneka. Walaupun cerminan ini wajar terjadi pada sebuah negara demokrasi setelah sekian lama terkurung dalam tirani.

Fenomena kontestasi seperti ini menurut saya tak ubahnya seperti sebuah pola dalam Game Theory yang disebut Zero Sum Game. Zero Sum Game pertamakali dipublikasikan pada tahun dalam buku “Theory of Games and Economic Behavior” pada tahun 1944 oleh John Von Neumann dan Oscar Morgenstrern.

Zero sum game adalah kondisi yang menggambarkan bahwa jumlah keuntungan dan kerugian dari seluruh peserta dalam sebuah permainan adalah Nol. Artinya keuntungan yang dimiliki atau didapatkan oleh seorang pemain berasal dari kerugian yang dialami oleh pemain lainya. Hal ini pasti ada dalam sebuah game, namun apakah zero sum game ini menjadi pantas apabila terjadi dalam kontestasi yang katanya bertujuan untuk kepentingan bangsa dan negara?

Menyoal tentang pertarungan di akar rumput oleh simpatisan pendukung pasangan calon peserta pemilu tentu saja merupakan hal yang merugikan apabila terjadi kondisi zero sum game didalamnya. Betapa tidak, Pendukung dari “si kalah” akan dibully habis dan pendukung “si menang” seolah menjadi yang empunya negara.

Pada babak selanjutnya giliran pendukung “si kalah” menjadi pengkritik serba tahu dan pendukung “si menang” menjadai objek serba salah. Kompetisi yang dilakoni para elit seolah menempatkan masyarakat sebagai serdadu perang dengan berbagai gerakan masiv di social media bahkan dunia nyata, sementara para elit sibuk menikmatinya. Sebuah kontestasi yang berahir layaknya permainan judi di meja poker dengan zero sum game didalamnya, padahal hakikatnya proses ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara.

Non Zero Sum Game

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mungkin proses yang sejak 2014 bahkan sejak pertamakali reformasi bergulir yang selalu menempatkan serdadu rakyat dalam pertarungan ini berahir dengan Non Zero sum game (kebalikan Zero Sum Game)? Mungkinkah semua pendukung peserta kontestasi menjdai kelompok yang sama-sama menang? Pertanyaan serupa pasti terngiang dalam banyak benak masyarakat yang sudah terlalu jenuh dengan berbagai pertarungan antar pendukung dan simpatisan yang bahkan melewati batas rasional yang mereka punya.

Didalam Game Theory sebenarnya kondisi yang terjadi tidak harus Zero Sum Game, dapat juga berlaku Non Zero Sum Game dengan hasil win-win atau lose-lose solution. Keadaan ini tentu akan berlaku dengan asumsi kelompok pemilih disini adalah orang yang melakukan permainan.

Kita ibaratkan mereka seperti halnya perusahaan yang menetapkan strategi dalam pasar. Mereka bebas menentukan kriteria pemimpin seperti apa yang layak untuk mereka. Keadaan ini berbeda dengan realita saat ini  dimana kebanyakan pemilih dan simpatisan justru menjadi pasar yang menjatuhkan pilihanya dengan tidak rasional.

Metode lain dalam Game theory dapat menjelaskan kondisi win-win solution ini, salah satunya adalah Nash equilibrium yang dipopulerkan oleh Jhon Nash 1950. theory ini menjelaskan bahwa salah satu pemain akan menyusun sebuah strategi berdasarkan strategi yang dilakukan oleh pemain lawan.

Permasalahanya adalah kita dihadapkan pada ketidaktahuan kita terhadap keinginan pemain lawan, dalam Game Theory disebut sebagai the Prisoners dilemma. Demikian seperti halnya para pendukung dan simpatisan pasangan calon yang sama-sama tidak mengetahui sebenarnya apa yang penting dan diinginkan oleh pendukung dan simpatisan lainya.

Itu sebabnya Nash mengatakan bahwa Equilibrium Nash hanya cocok untuk analisis jangka pendek, dalam jangka Panjang sebagiknya para pelaku permainan berkerjasama. Hal ini didukung kuat oleh ilmuan peraih Nobel lainya seperti Thomas C Schelling dan Robert Aumann.

Pada tahap selanjutnya dalam Game Theory adalah metode Enforcing a Cartel, dimana didalam pasar duopilis perusahaan dapat menetapkan sendiri harga mereka, kemudian terjadi persaingan harga. Akan aman jika mereka menetapkan harga sesuai kesepakatan dan memperoleh untung bersama sebanyak-banyaknya.

Demikian dengan para pendukung dan simpatisan, alangkah baiknya jika mereka duduk Bersama kemudian mendiskusikan kriteria calon pemimpin yang ideal menurut mereka dan syarat wajib yang harus dimiliki. ketika terjadi kontestasi dan kedua calon yang mereka usung bertarung mereka tidak perlu beradu fisik dan pikiran, karena siapapun yang menjadi pemenangnya pada dasarnya adalah sama.

Hal ini dikarenakan kriteria calon yang mereka bela sudah disepakati sama. Apabila ini bisa diterapkan tentunya siapa yang menjadi pemenang dalam kontestasi akan diterima oleh semua. Demikian juga dengan yang kalah dalam kontestasi maka akan merasa menjadi pemenang bersama dari hasil yang ada.

Pada pandangan yang disampaikan penulis idealnya kesepakatan-kesepakatan tentang kriteria calon yang akan dipilih beserta syarat yang harus dimiliki merupakan hal yang substantive bagi masing-masing pendukung.

Namun seperti halnya pada Game Theory dalam menganalisis perilaku pasar oligopoli syarat yang paling utama adalah jika semua pemain dalam permainan ini melakukan tindakan rasional. Pertanyaan yang tidak dapat dijawab saat ini adalah apakah para pendukung dan simpatisan bahkan diri kita adalah orang yang berpikir rasional dalam pemilihan umum?

Dampak Online Transportation bagi Masyarakat Agraris

Oleh: Tusyanah, S.Pd., M.Pd.

Pernahkah mengalami kejadian dimana kita sedang memburu waktu tapi tidak ada kendaraan yang siap mengantarkan? Atau kelaparan tapi tidak sempat beli makan? Saya seringkali mengalaminya. Dan dengan klik aplikasi Gojek atau Grab maka masalah tersebut terselesaikan. Perkembangan information dan teknologi benar benar telah mengubah kehidupan di era digital sekarang. Betapa menyenangkan karena interaksi, komunikasi, transportasi menjadi lebih mudah, cepat dan murah. Sebagai konsumen, tentu aplikasi ojek online ini sangat membantu.

Konsekuensinya, Gojek dan Grab membuka lowongan kerja untuk driver. Semua orang yang sudah mempunyai smart phone, SIM dan STNK bisa mendaftar menjadi driver. Pekerjaan ini fleksibel untuk dilakukan. Jikalau sang driver sedang repot, dia bisa jeda sebentar untuk tidak mengambil order. Jadi tidak mengherankan jika banyak orang ingin menjadi driver di aplikasi ojek online tersebut.

Dan hal ini juga menarik perhatian produser TV untuk menayangkan program TV yang menceritakan kehidupan para tukang ojek atau driver. Diceritakan bahwa kehidupan mereka menyenangkan dan lucu. TV sebagai media informasi yang hampir ada di tiap rumah membuat TV mampu menjangkau jutaan penonton baik di kota maupun di desa.

Dengan adanya permintaan pasar dan ilustrasi menyenangkan kehidupan driver ojek memungkinkan pemuda yang sedang mencari pekerjaan untuk menjadi driver online. Para pemuda desa memilih menjadi driver online dibanding petani di desa. Saya pernah mendapatkan driver online yang aslinya dari desa tapi kemudian demi mencari kehidupan yang layak berpindah ke Semarang.

Hal ini tentu tidak salah namun adakah akibat jangka panjang nya jika tidak ada yang ingin jadi petani? Bagaimana jika profesi petani menjadi petani yang sepi peminat bahkan untuk anak pemilih sawah sekalipun.

Petani sebagai produsen bahan mentah pangan di Indonesia seperti beras, kacang, jagung, sayuran dan buah buahan tentu berperan dan berpengaruh penting terhadap ketahanan pangan nasional. Hal ini memprihatinkan jika kelak Indonesia sebagai negara agraris menjadi negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Bahkan sekarangpun Indonesia  membuka kran impor bahan pangan dari Thailand dan China.

Mungkin bisa dipikirkan untuk mulai mempromosikan pekerjaan petani untuk pemuda Indonesia. Petani adalah pekerjaan yang mulia dan juga menjanjikan masa depan yang cerah. Promosi menjadi petani semestinya juga mendapatkan porsi perhatian yang sama dari produsen TV seperti promosi kehidupan driver ojek online. Semestinya ada juga sinetron mengenai pekerjaan petani sukses yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang. Sehingga profesi petani menjadi profesi yang diminati dan digeluti oleh banyak pemuda Indonesia.

Pemuda adalah tulang punggung bangsa yang akan meneruskan dan menentukan masa depan Indonesia. Jadi pembentukan karakter yang kerja keras dan kerja cerdas harus terus dikembangkan termasuk dalam pekerjaan pertanian. Dengan adanya internet, perkembangan teknologi maka Kita dituntut unuk merespon dengan cepat sehingga perlu diluncurkan sistem penjualan hasil pertanian secara online seperti “Marketplace Online untuk Petani” dimana petani bisa membuat akun sebagai penjual hasil pertanian dan mengeksekusi order dengan cepat dan layak. Dengan tidak adanya perantara/ intermediasi diharapkan petani masa depan mampu memperoleh profit yang lebih banyak.

Banyak pihak yang harus dilibatkan dalam usaha penciptaan petani masa depan yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Salah satunya adalah peran pendidikan yang vital bagi perubahan pemikiran, pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola lahan pertanian dan pengolahan hasil pertanian agar regenerasi petani terus berlanjut. Semoga kelak kebijakan pemerintah peduli dengan nasib petani karena profesi petani itu membanggakan dan bermanfaat bagi banyak orang.

Halaman Gedung Baru Fakultas Ekonomi: Spot Foto Favorit

Oleh : Ni’ma Ulul Mustafidah

Setelah 11 tahun berdiri, akhirnya pada tahun 2017 Fakultas Ekonomi resmi memiliki gedung sendiri. Gedung dengan dominan warna biru dan abu-abu ini tampak magrong-magrong bahkan jika dilihat dari Simpang Tujuh UNNES. Sejak Fakultas Ekonomi didaulat menjadi panitia Dies Natalis ke 53 UNNES pada tahun 2018, komplek gedung dengan nama diawali huruf ‘L’ ini semakin ciamik. Berbagai tanaman tertanam rapi di sekitar gedung, kanopi sepanjang jalan yang menghubungkan gedung L dan gedung C3, hingga lampu-lampu taman yang membuat komplek Fakultas Ekonomi semakin ‘romantis’ di malam hari.
Namun, ada satu tempat yang mungkin banyak kita temui fotonya terpampang di feed instagram mahasiswa kampus biru ini. Ya! Halaman depan gedung! Halaman cukup luas dan terik di siang hari ini menjadi salah satu tempat foto favorit. Dan, fotonya harus presisi juga, lho! Rangkaian huruf membentuk “FAKULTAS EKONOMI” yang terpampang di atas gedung harus terlihat jelas sebagai latar belakang foto. Jika diamati lebih lanjut, kebanyakan mahasiswa yang mengambil foto di sana ialah mahasiswa yang mengenakan jas almamater dengan slempang bertuliskan nama disertai gelar sarjana, serta aneka bunga dan hadiah di sekitarnya. Mereka adalah mahasiswa semester akhir yang setelah sekian lama berjuang mengerjakan skripsi, setia menghuni bangku-bangku besi depan ruang dosen, serta sekuat tenaga mempertahankan argumennya di depan penguji, akhirnya semakin dekat menuju gelar sarjana. Akhirnya mereka lulus! Ya, walau tetap harus menyelesaikan revisi setelah ini.
Momen yang mungkin hanya terjadi sekali dalam seumur hidup ini tentu tak dapat dibiarkan berlalu begitu saja tanpa dokumentasi. Maka, tempat terbaik untuk berswafoto tentunya adalah halaman depan gedung Fakultas Ekonomi! Mulai dari foto sendiri, bersama kawan satu kelas, kawan satu kos, tim KKN, tim PPL, tim PKL sampai bersama kawan yang sering disebut ‘konco kenthel’, dan lain sebagainya. Setelah ada mahasiswa yang sidang, dapat dipastikan bahwa halaman gedung FE akan dipenuhi sekumpulan mahasiswa yang antri berswafoto bersama.
Kegemaran ini menunjukkan bahwa mahasiswa fakultas ekonomi juga bangga dengan fakultasnya sendiri. Fakultas yang pada tahun 2018 ini genap berusia 12 tahun ini memang memiliki segudang keunggulan: mulai dari seluruh prodinya yang mendapat akreditasi A; berulangkali berhasil memenangkan ajang pemilihan mahasiswa berprestasi; dan segudang prestasi lainnya baik di tingkat nasional maupun internasional. Ditambah lagi, keberadaan gedung baru yang sangat representatif.
Bagi kalian mahasiswa Fakultas Ekonomi, jangan sampai ketinggalan! Setidaknya kalian pernah berfoto di depan gedung FE walau hanya sekali, sebagai kenang-kenangan kalau kalian pernah punya kisah indah dan bermakna di Fakultas ini. Dan untuk kalian mahasiswa semester akhir, hayoooo, skripsinya sudah sampai mana? Segeralah berfoto di sini, dengan jas almamater dan slempang sebagai tanda bahwa kau telah berhasil menyelesaikan studi.

Sekelumit Cerita Tentang Korea

Untuk mendapatan sesuatu yang berharga selalu membutuhkan waktu yang lebih lama. Demikian juga rakyat Korea untuk mendapatkan kemerdekaan dan kesuksesan juga membutuhkan waktu yang lebih lama. Negara dengan jumlah penduduk sektar 50 juta yang laki –laki 40% nya sedangkan wanita 60%, dengan luas negara antar timur sampai ke barat sepanjang kurang lebih 100 km dari utara ke selatan 58 km dengan income perkapita penduduk rata- rata 2000 U$. Dengan bendera dengan gambar lingkaran bernomor merah (yin) dan separo dibawah berwarna biru (yan) dengan pintari 4 persegi yang bertuliskan langit dan tanah serta api dan air yang artinya kehidupan yang harmoni selaras, seimbang, disiplin, tertib, bersih, disana tidak ada pencuri kalau ada pasti orang asing, tidak ada pak ogah dan semua toilet di korea gratis nggak bayar, hebat kan!

Penderitaan orang Korea, saat dijajah Jepang selama 35 tahun dirusak mentalnya, dibunuh para pemimpin dan raja – rajanya. Raja atau kaisar yang terakhir memilih ke turunan terakhir ditangkap dan dipaksa menikah dengan gadis Jepang, karena tidak mencintainya dan tidak punya anak dan akhirnya di bunuh jadi Korea bersih dari para pemimpin dan rakyatnya disiksa. Terlepas dari penjajahan Jepang, memasuki babak perang Saudara antara utara dengan selatan, jadi  yanng di utara masuk komunis Rusia sedangkan yang selatan menjadi negara demokrat berkiblat dengan Amerika Serikat ( AS ) tetapi dua pihak rakyat utara dan selatan mempunyai kerinduan untuk menyatukan kembali menjadi satu negara, satu bangsa,namun ambisi para pemimpinnya yang menjadikan mereka terpisah.

Hari pertama saya mendarat di Bandara Incheon, Seoul, Korea, bandara yang cukup besar dan bersih, namun  kacau imigrasi yang selalu membuat ribet untuk melepas jam tangan , sabuk, dompet, jaket, pasport, dan beda- benda lain seperti sisir disaku celana. Legalah lewat pemeriksaan imigrasi, sehingga  rasa haus muncul lalu minum air dengan air kran di bandara, karena semua air minum harus dibuang dalam pemeriksaan. Perjalanan di lanjutkan ke Pulau Jeju merupakan rumah – rumah tradisional Korea yang terbuat dari kayu –kayu pinus dan atapnya batang padi yang diikat satu sama lain. Disinilah terdapat tempat tinggal “Dae Jang Gem “ sinetron serial. Rumah  – rumah sederhana dengan penduduk wanita lebih banyak daripada laki –laki dan wanita Korea ini agak sombong tidak tertarik untuk menikah lebih suka memelihara anjing di bawa kemana-mana sebagai teman baiknya. Akhirnya pria – pria kampung tidak menikah dengan gadis- gadis Korea tetapi menikah dengan orang dari Malaysia, Vietnam dan mungkin dari Indonesia. Perjalanan di Jeju di lanjutkan dengan mengunjungi pelabuhan kecil dengan batu karang diair berbentuk kepala naga, sebagai tanda keberkahan di jalan misteri ini. Kemudian terbang ke Seoul melalui bandara Dempo menuju ke “Lotte Tower” dengan ketinggian 500 m untuk melihat disekitar Seoul dari ketinggian gedung. Selanjutnya menuju dermaga di Pulau Nami terletak 63 km dari Seoul ditengah – tengah sungai Han, Pulau Nami kelihatan seperti Tasik dan anggur yang terapung pada bagian atas Tasik Cheongyeong, pulau ini lusnya sekitar 460.000 m2. Pulau ini di betuk dengan batu kecil dan pasir, tiada gunung di pulau ini  tetapi terdapat pohon –  pohon yangg cukup tinggi dapat menyentuh langit tinggi. Tempat ini adalah tempat dimana tupai, burung unta, akrab dan burung – burung lain yang tak terhitung jumlahnya dan hidup bersama secara aman dengan manusia.Pulau Nami  dinamakan setelah Jendral Nami menjadi tokoh yang disegani dalam sejarah Korea, beliau adalah pejuang yang berani dalam pertempuran walaupun akhirnya wafat pada umur 26 tahun. Musim hujan mengubah dan membentuk pulau ini dalam binaan Cheongpyeong, kini ia adalah pulau yang cantik sepanjang tahun. Pada tahu 1965 beribu – ribu pohon telah di tanam oleh Bapak Byeong – Do  Minor sekarang pulau Nami menjadi tempat untuk istirahat dan bersantai, diantara manusia, hewan dan pohon – pohon yang keamanannya dan harmoni bersama.

Selanjutnya saya diajak nonton Jeju menyajikan sebuah atraksi yang unik dan interaktif dengan cooking gives off good vibes sejak tampil  10 November 1997 memberikan gambaran tentang musical instrumental in the hands of the performances. Selanjutnya berkunjung ke Everland Resort yang menyuguhkan Everland Hallowen Festival thatt everyone can enjoy to The Fullest. Ada beberapa sajian mulai carnaval fantasy parade, moonlight parade, parade musical,horor express, haunted house, crazy zombie hunt dan  horror maze.

Bangsa Korea berasal dari bangsa Mongolia hampir sama dengan bangsa Cina dan sekitarnya. Penduduk korea sebagian besar 51% tidak punya agama dan 49% beragama  antara lain Budha 25 % , Kristen Protestan 15 % , Katolik 8% dan Muslim1 %  . Sedang di kampung Jeju agamanya, agama tradisional laki – laki di Jeju tinggal di rumah yang berkerja adalah para wanitanya dengan pekerjaan di sawah dan dihutan mencari madu dan buah nano –nano  untuk membuat teh, jadi teh jeju juga rasanya nano – nano. Orang  -orang Korea mulai kembali ke alam makan sayuran tanpa vitsin atau bumbu dan tanpa minum gula. Hampir semua hotel sebanyak 3 sampai dengan 4 hotel tempat kami menginap menyediakan teh hijau tanpa ada gula begitu juga di restoran  tidak menyediakan gula, makanan –makanan di KFC /MC Donald serta makanan daging jarang, di Jeju  kami menginap di Jeju  Aerospace Hotel, cukup dingin dengan perbedaan waktu 2 jam jadi di Indonesia jam 5. 00 di Korea jam 7.00, melihat selalu berhitung menambah 2 jam . Satu tempat lagi yang aku kunjungi adalah gunung Seurak, sangat tinggi dan sangat dingin  naik kereta  gantung kurang lebih 15 menit sampai puncak, pemandangannya bagus sekali, kemudian turun menuju patung Budha yang tertinggi di Asia Tenggara , di daerah ini mendekati perbatasan atara Korea Selatan dengan Korea Utara, ada patung beruang yang menarik karena lehernya putih namun orang Korea lebih suka anjing daripada kucing, beruang berby ikut makan sayuran selama 100 hari, agar berubah menjadi manusia namun tidak berhasil.

Demikian sekelumit cerita di Korea sejak tanggal 14 Oktober sampai 21 Oktober 2017, saya bersama istri saya belahan hati dan sebilah tulang rusukku yang diambil dari dadaku lalu diciptakan pasanganku, di bagian akhir aku sempat membeli cincin mata berkilau merah amarilis, kecil indah dan menusuk hati sebagai kenangan perjalanan dari Korea.

Written by : Tarsis Tarmudji (Semarang, 21 Oktober 2017)
Edited by : Tusyanah (PE FE UNNES)

 

 

Be the Real You!

“Please tell me about yourself!” That was the question when I experienced a job interview a week ago when I was interested to take a part time job on holidays. At that time, I answered all good things about me. Then, getting out of the interview room, I kept thinking, “Was I as good as I said?”

We live in the age of branding creation when branding or imaging is everything. Almost every human being maintains his/ her branding. It is commonly known as personal branding. It is not an awful thing as long as he/ she does correctly and properly. Personal branding is how we are seen by others at how we behave; we speak, and we perform everyday which determine our characterisctics towards others.

In fact, personal branding is very essential. When other people understand if we have strong characters and expertise in a spesific field, there will be many opportunities and paths for us to reach the great careers in the future. Certainly; this personal branding should really reflect on our true self, it is not what others want to see. Imagine if we should build a fake charm or appearance and character; then, we are required to behave, speak, and perform untruthfully which are not our identities. In short term, we may handle this, but if we do this in long time, it will be so tiring and exhausting.

Nowadays; a person can be busy to make a brand or an image for himself instantly. I call it instant because he makes a brand or an image for himself with false branding. For example, he persistently seeks others’ attention by doing certain things which are usually ingenuine. A person could talk more without being able to do what he/she said. In fact, there are also people who consider others’ likes is everything. He is willing to do anything, changing himself to be liked by others and ignore the undesirable effects which can transpire on himself or the environment.

In fact, being you, yourself is more fun. We do not have to bother ourselves with fake branding. We do not need to follow all others’ wishes which are not suitable with us just for getting the appreciation. Instead; we will not be happy because who knows we are happy or not is ourselves.

If we want to look around, we can get the inspirations from the nature. In Indonesia, there are several kinds of indigenous fruits which teach us to be ourselves. The first is Kedondong. Kedondong is a traditional Indonesian fruit, the fruit is smooth from its external point of view and green, but when we feel the fruit, we bite, or we split, it will look a form that is not in accordance with the outer appearance. He has a fiber that travels everywhere. It alarms us when we sway the fruit, the fibers sometimes slip between the teeth. That is what we often experience in our life. There are some people who are like wolf in sheep’s clothing, they are sweet and soft or calm ouside but having the rotten heart. They are lovely in dressing but bad in behavior. A good human should be equivalent on both body and soul.

The second one is Thorny Palm(in Indonesia we says Salak). The nature of the fruit is opposite to Kedondong. We know that Thorny Palm has a sharp, and difficult outer form, it is difficult to be peeled. But inside there is a sweet and fresh fruit. We often find people like this; we do not have any right to judge a person by appearance, race, or skin color. We do not know what we think it is bad outside but; sometimes, it is good inside. The ugly can have the golden beautiful heart and mind. So it is true that the wise sentence, “Do not judge the book by its cover”.

The third fruit is the Duku fruit. Duku fruit is a small fruit-shaped fruit. Duku is not as big as durian or mango but it has smooth skin and sweet contents. It has beautiful outside and inside. That is how we should be. Body and soul should be matching. It is not different between the heart and the lips.

All in all, we can get the moral message that we should not be like Kedondong, we should see other people similar to see Thorny Palm or Salak, and we should be like Duku. In Java, one of the provinces in Indonesia, the three fruits become a song entitled “Dondong Opo Salak” (Kedondong or Salak). It is a simple song but it has a very deep message. The lyrics can be seen below:

Dondong Opo Salak
(Kedondong or Salak/ thorny palm)
Duku Cilik-cilik
(The small duku)
Andong Opo Mbecak
(Riding the horse or taking the a pedicab (a traditional transportation means in Indonesia))
Mlaku Thimik-thimik
(it is slow moving)

It is a short song but iit is meaningful, which is inspired by the philosophy of the three fruits mentioned before. So, let’s be yourself with the truth, as real as possible. Be ourselves, our lives will be more fun. And finally, be authentic. Own your words, your images and your ideas. Be true to yourself; do not try to be something you’re not.

Written by : Risma Nur Anissa (BC PE P AKT 2014), Edited by : Tusyanah