Dampak Online Transportation bagi Masyarakat Agraris

Oleh: Tusyanah, S.Pd., M.Pd.

Pernahkah mengalami kejadian dimana kita sedang memburu waktu tapi tidak ada kendaraan yang siap mengantarkan? Atau kelaparan tapi tidak sempat beli makan? Saya seringkali mengalaminya. Dan dengan klik aplikasi Gojek atau Grab maka masalah tersebut terselesaikan. Perkembangan information dan teknologi benar benar telah mengubah kehidupan di era digital sekarang. Betapa menyenangkan karena interaksi, komunikasi, transportasi menjadi lebih mudah, cepat dan murah. Sebagai konsumen, tentu aplikasi ojek online ini sangat membantu.

Konsekuensinya, Gojek dan Grab membuka lowongan kerja untuk driver. Semua orang yang sudah mempunyai smart phone, SIM dan STNK bisa mendaftar menjadi driver. Pekerjaan ini fleksibel untuk dilakukan. Jikalau sang driver sedang repot, dia bisa jeda sebentar untuk tidak mengambil order. Jadi tidak mengherankan jika banyak orang ingin menjadi driver di aplikasi ojek online tersebut.

Dan hal ini juga menarik perhatian produser TV untuk menayangkan program TV yang menceritakan kehidupan para tukang ojek atau driver. Diceritakan bahwa kehidupan mereka menyenangkan dan lucu. TV sebagai media informasi yang hampir ada di tiap rumah membuat TV mampu menjangkau jutaan penonton baik di kota maupun di desa.

Dengan adanya permintaan pasar dan ilustrasi menyenangkan kehidupan driver ojek memungkinkan pemuda yang sedang mencari pekerjaan untuk menjadi driver online. Para pemuda desa memilih menjadi driver online dibanding petani di desa. Saya pernah mendapatkan driver online yang aslinya dari desa tapi kemudian demi mencari kehidupan yang layak berpindah ke Semarang.

Hal ini tentu tidak salah namun adakah akibat jangka panjang nya jika tidak ada yang ingin jadi petani? Bagaimana jika profesi petani menjadi petani yang sepi peminat bahkan untuk anak pemilih sawah sekalipun.

Petani sebagai produsen bahan mentah pangan di Indonesia seperti beras, kacang, jagung, sayuran dan buah buahan tentu berperan dan berpengaruh penting terhadap ketahanan pangan nasional. Hal ini memprihatinkan jika kelak Indonesia sebagai negara agraris menjadi negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Bahkan sekarangpun Indonesia  membuka kran impor bahan pangan dari Thailand dan China.

Mungkin bisa dipikirkan untuk mulai mempromosikan pekerjaan petani untuk pemuda Indonesia. Petani adalah pekerjaan yang mulia dan juga menjanjikan masa depan yang cerah. Promosi menjadi petani semestinya juga mendapatkan porsi perhatian yang sama dari produsen TV seperti promosi kehidupan driver ojek online. Semestinya ada juga sinetron mengenai pekerjaan petani sukses yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang. Sehingga profesi petani menjadi profesi yang diminati dan digeluti oleh banyak pemuda Indonesia.

Pemuda adalah tulang punggung bangsa yang akan meneruskan dan menentukan masa depan Indonesia. Jadi pembentukan karakter yang kerja keras dan kerja cerdas harus terus dikembangkan termasuk dalam pekerjaan pertanian. Dengan adanya internet, perkembangan teknologi maka Kita dituntut unuk merespon dengan cepat sehingga perlu diluncurkan sistem penjualan hasil pertanian secara online seperti “Marketplace Online untuk Petani” dimana petani bisa membuat akun sebagai penjual hasil pertanian dan mengeksekusi order dengan cepat dan layak. Dengan tidak adanya perantara/ intermediasi diharapkan petani masa depan mampu memperoleh profit yang lebih banyak.

Banyak pihak yang harus dilibatkan dalam usaha penciptaan petani masa depan yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Salah satunya adalah peran pendidikan yang vital bagi perubahan pemikiran, pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola lahan pertanian dan pengolahan hasil pertanian agar regenerasi petani terus berlanjut. Semoga kelak kebijakan pemerintah peduli dengan nasib petani karena profesi petani itu membanggakan dan bermanfaat bagi banyak orang.

2 responses to “Dampak Online Transportation bagi Masyarakat Agraris”

  1. sri utami says:

    Betul Bu Ana. Di desa-desa, para penggarap sawah jarang sekali orang yang muda-muda. Biasanya generasi lama yang mengelola sawah. Tapi tidak heran juga, karena pekerjaan di sektor pertanian kurang menjanjikan dengan modal yang besar dengan hasil yang tidak seberapa.

  2. Ana says:

    Thanks Mb Utami. Ini juga menjadi tantangan kita bersama bagaimana memberi solusi yang nyata, utamanya di bidang pendidikan dan pengabdian bagi petani desa. Semangat dalam mencari inovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts you may like