BIJAK DIKALA CORONA MELANDA

Virus corona pada saat ini telah menyebar di beberapa kota di Indonesia, tidak terkecuali Kota Semarang dan disekitarnya. Tentunya hal ini membawa pada kekhawatiran yang besar, tidak hanya terkait dengan kesehatan, tapi juga pada dunia Pendidikan. Nampaknya, banyak kampus telah beramai-ramai memberlakukan “lockdown” untuk meminimalkan terjadinya persebaran di area perkuliahan dan ruang-ruang kelas. Universitas Negeri Semarang pun tidak luput dari “lockdown”, sehingga kegiatan perkuliahan yang semestinya baru berjalan dua pertemuan, terpaksa digantikan secara online. Keputusan tersebut sejalan dengan instruksi Presiden dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pembelajaran secara daring atau online untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Kebijakan kuliah secara online sepertinya membawa angin segar bagi mahasiswa yang kuliah di pagi hari, mungkin ada sebagian mahasiswa yang sedang “mager” atau malas gerak ketika harus bangun pagi, sekarang bisa mengikuti kuliah sambal tiduran di rumah atau di kamar kos.

Virus corona adalah sebuah musuh bersama yang tidak terlihat oleh mata biasa, kekhawatiran yang muncul karena takut tertular merupakan hal yang wajar, terlebih sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang mujarab untuk menyembuhkan seseorang yang tertular. Fenomena kuliah yang dilakukan secara online tentunya perlu dimanfaatkan secara baik oleh mahasiswa, yakni dengan belajar dan membatasasi interaksi dengan orang lain, jangan sampai fenomenan belajar secara online malah dimanfaatkan untuk bepergian ke mall, café atau keramaian yang berpotensi menjadi media penyebaran virus corona. Kita perlu menjauhi ruang-ruang publik terlebih dahulu, meskipun kuliah digantikan secara online, agar tujuan untuk menghambat penyebaran virus berhasil. Jangan sampai, tujuan pemerintah yang ingin mengendalikan penyebaran di area kampus, hanya menggeser persebarannya di ruang publik yang lain. Kita perlu memulai untuk membatasi interaksi, dimulai dari diri sendiri membatasi aktivitas di luar ruangan atau ruang publik.

Membatasi interaksi bukan berarti terkungkung selalu di dalam rumah atau kos, tentunya manusia sebagai makhluk social memerlukan orang lain dalam kehidupannya. Apabila terpaksa, kita dapat pergi ke ruang publik dengan menggunakan masker bagi yang sedang sakit dan tidak lupa untuk mencuci tangan setelahnya. Kita perlu untuk berpartisipasi untuk memutus persebaran virus dengan mengetahui apa yang perlu dilakukan serta bisa mengingatkan teman, atau keluarga seperti apakah harus berperilaku. Pada akhirnya, kita perlu untuk menjadi duta bagi diri kita sendiri terlebih dahulu, sebagai mahasiswa yang merupakan agent of change, maka dengan adanya fenomena keberadaan virus corona ini bisa mendorong orang lain untuk berubah menjadi lebih baik dalam menjaga pola hidup sehat. Tentunya hal itu dimulai dari diri mahasiswa sendiri terlebih dahulu. Virus corona merupakan musuh bersama dan perlu kebersamaan untuk melawannya.

Kesimpulannya adalah pada kesempatan kuliah online ini, perlu dimanfaatkan dengan bijak, jangan sampai virus corona yang berupaya dicegah dengan membatasi interaksi di perkuliahan malah bergeser penularannya di ruang publik yang lain, terlebih sebagai mahasiswa yang bertindak sebagai agent of change, perlu untuk memberikan dorongan kepada orang lain untuk merubah pola hidup sehat yang dimulai dari diri sendiri, untuk menangkal serangan virus corona. RA Kartini pernah menulis surat kepada seorang sahabat pena di Belanda dengan judul Door Duisternis tot Licht atau habis gelap terbitlah terang yang menjadi inspirasi kita di saat gelap seperti ini. Kita harus yakin bahwa keadaan ini akan segera berubah menjadi lebih baik. Ini adalah saat yang gelap, dimana kita perlu untuk menjadi sebuah lilin penerang, kita perlu mengambil bagian untuk meletakkan tanggungjawab pembatasan persebaran virus corona dimulai dari diri sendiri agar semangat tersebut mampu menginspirasi orang lain. Ingat, sesuatu hal yang besar dimulai dari hal yang kecil!

Oleh: Angga Pandu Wijaya

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang

You may also like...