Pengembangan Desa Wisata Berbasis Komunitas: Upaya Meningkatkan Kesadaran Wisata

Pariwisata merupakan salah satu sektor penggerak perekonomian yang perlu diberikan perhatian lebih agar dapat berkembang dengan baik. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Pembangunan kawasan wisata melalui penggalian potensi yang ada di wilayah tidak hanya ditekankan pada aspek ekonomi saja melainkan juga aspek lingkungan dan sosial. Sustainability tourism yang berasal dari frase pembangunan berkelanjutan merupakan alternatif dari pariwisata massal dan upaya untuk meningkatkan efek positif dan mengurangi efek negatif pariwisata terhadap masyarakat lokal dan lingkungan alam. Desa Branjang terletak di sebelah utara lereng Gunung Ungaran, dimana kondisi geografisnya didominasi oleh lahan pertanian baik persawahan maupun perladangan. Selain itu, Desa Branjang memiliki memiliki peluang besar untuk pengembangan wisata religi dan ekowisata di wilayah Ungaran Barat. Namun, peluang potensi wisata tersebut belum diimbangi dengan sumber daya manusia yang kompeten. Banyaknya potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa menjadi peluang bagi pemerintah desa khususnya kelompok sadar wisata (Pokdarwis) melakukan persuasif kepada masyarakat desa.

Menyikapi potensi wisata yang ada di Desa Branjang, tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi mengadakan pengabdian masyarakat pengembangan desa wisata. Tim pengabdian terdiri dari Nanik Sri Utaminingsih, Amir Mahmud, Ida Nur Aeni, dan Nurdian Susilowati.

Dalam paparannya Nanik Sri Utaminingsih menyampaikan bahwa pengembangan Kawasan desa wisata menjadi peluang besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Pengembangan desa wisata bisa dilakukan dengan pendekatan community-based tourism (CBT) sehingga konsep pembangunan berkelanjutan tetap bisa diterapkan.

“CBT merupakan sebuah konsep yang menekankan masyarakat untuk mampu mengelola dan mengembangkan objek wisata oleh meraka sendiri. Melalui CBT, masyarakat terlibat dalam proses pembangunan berkelanjutan yang selanjutnya muaranya pada kesejahteraan masyarakat, jelas Nanik”

CBT sebagai model pembangunan pariwisata berkelanjutann dapat bermanfaat bagi masyarakat lokal dalam menghasilkan pendapatan, mendiversifikasi ekonomi lokal, melestarikan budaya, dan melestarikan lingkungan. Implementasi CBT idealnya dapat menciptakan integrasi antara pemerintah desa, Pokdarwis, masyarakat, dan pengunjung wisata. Sehingga pelaksanaannya memperhatikan aspek lingkungan, social, dan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *