Sudah Siapkah Memasuki Kehidupan di Era Kenormalan Baru?

Pandemi Covid 19 yang melanda dunia pada umumnya dan negara Indonesia pada khususnya telah membawa perubahan besar dan mendasar pada semua sisi kehidupan manusia. Perubahan besar tersebut tidak hanya terjadi di bidang kesehatan saja, tetapi juga termasuk di bidang sosial, keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan bidang bidang lainnya.

Di bidang kesehatan, tentu yang paling besar dampaknya. Di mulai dari hal terkecil pada sisi individu mengenai perilaku hidup sehat, sampai hal hal besar seperti kematian, pengobatan, dan tata kelola pemerintah dalam pelayanan kesehatan. Di bidang sosial tidak luput dari perubahan akibat pandemi covid 19. Interaksi sosial, bentuk kegiatan-kegiatan sosial telah mengalami perubahan. Kegiatan masyarakat yang mempunyai hajad pernikahan, upacara kematian, kegiatan kegiatan kemasyarakatan lainnya akan dengan mudah kita rasakan perbedaannya dibanding dengan kegiatan serupa yang terjadi pada sebelum pandemi covid 19. Bahkan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya adalah perubahan-perubahan teknis (bukan substantif) dalam penyelenggaraan kegiatan ibadah keagamaan. Bagi yang beragama Islam, tentu merasakan perubahan perilaku melaksanakan ibadah yang tidak pernah terbayang sejak kecil, seperti shalat mengenakan masker, shalat berjamaah dengan jarak tertentu yang ditata, mengaji secara daring, dan lain lain. Perilaku manusia dipaksa mengalami perubahan dan penyesuaian yang pada akhirnya menimpulkan kebiasaan-kebiasaan baru. Begitu juga hal yang sama terjadi di bidang pendidikan.

Proses pembelajaran dituntut dapat dilakukan inovasi dan perubahan sejak terjadinya pandemi covid 19 sekitar bulan April 2020. Inovasi dan perubahan yang dimaksud ditujukan untuk memberikan layanan pendidikan yang efektif, namun tetap memperhatikan aspek keamanan dari sisi kesehatan utamanya penularan virus antar siswa/mahasiswa, antar guru/dosen, antara guru/dosen dengan siswa/mahasiswa, dan antar warga sekolah/kampus. Tonggak perubahan besar pada bidang pendidikan adalah trend proses pembelajaran yang dilakukan secara daring. Trend ini tidak hanya terjadi di pendidikan tinggi saja, tetapi juga terjadi di pendidikan menengah maupun pendidikan dasar.

Pada awal dimulainya trend pembelajaran daring, disadari ada proses adaptasi yang tidak mudah. Para guru dan dosen senior ”dipaksa” harus bisa menyesuaikan diri dan bersahabat dengan perangkat teknologi dan beberapa aplikasi untuk pembelajaran daring. Pada jenjang pendidikan dasar, orang tua disibukkan untuk melakukan pendampingan kepada putera puteri tercintanya saat pembelajaran daring dilakukan. Permasalahan terbesar yang dirasakan saat pembelajaran daring adalah kekuatan sinyal yang belum merata di negeri ini, sehingga proses pembelajaran secara daring khususnya yang diselenggarakan secara synchronous (live/ siaran langsung) menjadi sering mengalami gangguan. Setidaknya butuh waktu 2 bulan untuk adaptasi sampai proses pembelajaran daring bisa terlaksana dengan nyaman, lancar, dan efektif, pada saat itu.

Saat ini semua telah menikmati pelayanan daring untuk berbagai kebutuhan di bidang pendidikan. Tidak hanya dalam urusan proses pembelajaran saja, tetapi urusan administrasi dan manajerial juga sudah sangat bersahabat dan nyaman diselenggarakan secara daring. Aktivitas daring telah benar benar menjadi lompatan perilaku manusia pada saat ini. Aktivitas yang tidak terbatas ruang dan waktu. Seorang dosen yang hari dan jam tertentu mengajar di Gedung A akan dengan sangat mudah berpindah ke Gedung B untuk menguji skripsi/tesis/disertasi. Bahkan tak jarang beberapa aktivitas dilaksanakan secara bersamaan pada waktu yang persis sama dengan tempat yang jauh berbeda. Bisa antar ruang, antar gedung, antar kota, bahkan antar negara.  Aktivitas rapat berada di display laptop 1, mengajar berada di display laptop 2, menjadi narasumber seminar di display lapto 3, menguji tesis berada di display ponsel pun kerap dilakukan oleh banyak dosen saat ini. Dulu ketika ada mahasiswa mengkonfirmasi akan ujian skripsi di waktu yang bersamaan dengan jam mengajar dosen, maka dosen akan cepat menjawab : ”maaf tidak bisa karena jam ujian skripsi tumbukan dengan jam mengajar”. Saat ini, jika ada kasus demikian, dosen akan langsung menjawab: ”siap bisa, kan bisa dirangkap”. Aktivitas daring menjadi aktivitas yang telah menjadi habituasi primadona di pelayanan pendidikan yang amat nyaman. Dosen, tenaga kependidikan, jajaran manajemen merasa telah berada di zona nyaman dengan aktivitas daring ini. Pekerjaan-pekerjaan administrasi sangat dengan cepat diselesaikan.

Aktivitas daring juga membawa berkah bagi mahasiswa. Pelayanan daring menjadikan proses pelayanan yang cepat, singkat, dan akurat. Banyak aktivitas yang berhasil diselesaikan dalam waktu yang amat singkat. Dulu mahasiswa butuh waktu 1 minggu untuk menyerahkan naskah skripsi kepada 3 dosen penguji. Mahasiswa harus mengantri janjian dengan dosen dan berbaris berjajar di kursi tunggu masing masing ruang dosen. Kadangkala mahasiswa pulang hampa setelah menunggu dosen dari jam 7 sampai jam 14 siang. Kini untuk mengirim naskah skripsi kepada 3 penguji hanya butuh waktu beberapa detik. Klik….. secepat kilat naskah skripsi sudah sampai kepada dosen.

Pertanyaan berikutnya, jika sudah nyaman demikian dengan aktivitas daring, siapkah jika sewaktu-waktu semua aktivitas tersebut wajib dan harus dilakukan secara luring? He he he…… tentu kita akan tersenyum dan berpikir dalam hati, perlu adaptasi dan penyesuaian yang luar biasa. Tidak mudah tentunya. Dua bulan pertama saya yakin haqul yakin banyak kegiatan yang tumbuk dan tabrak sana sini. He he he…. tumbukan horisontal dan vertikal (istilah baru dari penulis). Ya Allah……

Penulis: Prof. Dr. H. Muhammad Khafid, M.Si-Guru Besar Akuntansi FE UNNES

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.