Urgensi Pendidikan Konsumsi Hijau Dalam Mereduksi Kerusakan Lingkungan

Perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan menjadi isu yang tidak pernah selesai untuk dibahas, bahka kondisinya yang semakin memperihatikan. Wahana Lingkungan hidup (WALHI) memperkirakan bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak tahun 2010, kerusakan alam di Indonesia meningkat menjadi 40 sampai dengan 50 persen. Hal ini juga diperparah dengan adanya penurunan keanekaragaman hayati di Indonesia dalam satu decade terahir.

Tidak hanya itu, permasalahan lingkungan di Indonesia juga dapat dilihat dari sudut pandang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Data yang dirilis BPS tahun 2018 tentang Indeks Perilaku Ketidakpedulian  masyarakat terhadap lingkungan (IPKLH) menunjukan angka ketidakpedulian masyarakat di Indonesia terhadap lingkungan sangat tinggi. Sebagai contoh terkait dengan pengelolan sampah, indeks IPKLH menunjukan angka sebesar 0,72 yang menjelaskan bahwa tingkat kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah sangat tinggi (Red:Semakin mendekati 1 semakin besar). Contoh lain adalah IPKLH pada penggunaan trasnportasi yang menunjukan angka 0,71 juga tergolong ketidakpedulian masyarakat yang besar terhadap penggunaan kendaraan bebas emisi.

Rendahnya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap isyu lingkungan juga tercermin dari  penggunaan plastic yang sangat masif di Indonesia. Dilansir dari kontan.com (08/19) pertumbuhan industry kemasan plastic sangat pesat dipengaruhi oleh permintaan produk consumer goods terutama pada sector makanan dan minuman. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebutkan bahwa penyerap industri kemasan plastik tersebut tak lain ialah sektor makanan dan minuman (mamin) sebesar 60%. Selanjutnya Indonesia memiliki populasi pesisir sebesar 187,2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik dan dialirkan ke lautan. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi seluruh komponen masyarakat.

Eksternalitas negative yang ditimbulkan sebagai akibat penggunaan plastic secara massif menjadi perhatian khusus pemerintah. Banyak Peraturan daerah yang secara tegas melarang penyediaan kantong plastic bagi beberapa supermarket. Akan tetapi peraturan tersebut agaknya tidak diindahkan secara menyeluruh, nyatanya masih banyak toko dan warung yang menyediakan sampah plastic. Kebijakan pengurangan plastic yang dibebankan sepenuhnya kepada Konsumen juga belum efektif, mengingat produsen diberbagai industry juga masih aktif menggunakan plastic. Lalu bagaimanakah solusinya?

Permasalahan sampah plastik yang terus mengancam masa depan lingkungan memang tidak dapat diselesaikan dalam sekejap. Perlu adanya penyelesaian dalam jangaka Panjang untuk mengatasi amsalah tersebut. Salah satu solusinya adalah dengan mewarisi kepedulian dan juga pemahaman tentang eksternalitas dan kerusakan lingkungan melalui Pendidikan konsumsi berkelanjutan. Hal ini dapat menjadi solusi dalam jangka pendek sekaligus menjadi solusi jangka Panjang karena memiliki aspek preventif di masa yang akan datang.

Pendidikan konsumsi berkelanjutan dapat diartikan sebagai upaya sadar masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup yang berkesinambungan dengan alam, melalui konsumsi produk ramah lingkungan. Dalam arti lain Pendidikan konsumsi berkelanjutan merupakan upaya mendidikan generasi berikutnya untuk melakukan perilaku konsumsi ramah lingkungan. Definisi tersebut terurai dari konsep Pendidikan dan konsep konsumsi berkelanjutan.

Adanya Pendidikan konsumsi berkelanjutan dalam jangka pendek berperan dalam mencegah sesorang melakukan Tindakan konsumsi yang merugikan lingkungan, termasuk penggunaan plastic secara massif. Dalam jangka Panjang, keberadaanya dapat dijadikan sebagai sarana perubahan perilaku dan gaya hidup masayarakat menajdi lebih bijak dalam melakukan konsumsi agar tidak merusak alam.

Keberadaan Pendidikan konsumsi berkelanjutan menjadi sangat penting pada tatanan sosial masayarkat yang peduli lingkungan, demikian juga sebaliknya. Pernan Pendidikan konsumsi berkelanjutan jika diterapkan dengan baik minimal akan menghasilkan output berupa: 1) Pendidikan konsumsi berkelanjutan dapat meningkatkan literasi lingkungan yang berkaitan dengan aksi-aksi lingkungan, 2) Pendidikan konsumsi berkelanjutan akan menumbuhkan adanya Gaya hidup berkelanjutan, melalui perilaku-perilaku yang ramah lingkungan, 3) Pendidikan konsumsi berkelanjutan dapat dijadikan ukuran baru dalam tata kehidupan sosial masayarakat modern yang memiliki kepedulian lingkungan. 4) Pendidikan konsumsi berkelanjutan secara tidak langsung akan memaksa adanya produksi ramah lingkungan dan meminimalisir eksternalitas negative dari aktivitas ekonomi yang dilakukan masyaarakat.

Berbagai peran tersbut tentu saja tidak dapat terlaksana jika tidak ada dukungan terhadap pendidiakan konsumsi berkelanjutan. Perlu adanya dukungan dari seluruh komponen Pendidikan, dari mulai kurikulum, materi, bahan paparan dan literasi yang berkaitan erat dengan pendidiakn konsumen berkelanjutan. Selain itu juga diperlukan pemahaman bersama oleh seluruh pendidik di Indonesia akan konsep Pendidikan konsumsi berkelanjutan yang nantinya dapat dimasukan kedalam pembelajaran yang ada di sekolah, perguruan tinggi dan juga masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.